Beranda > Dokumentasi Kehidupan, Opini > Visi Memaknai Realita

Visi Memaknai Realita

mata_sharingan

Harapan dan Mimpi

Seiring dengan berjalannya waktu, visiku terus berubah. Kalau dipikir-pikir, Wahyu Fahmy yang masih polos, dulu hanya punya satu visi: bahagia dunia dan akhirat. Hehe, standar banget. Lalu visi ini berkembang lebih spesifik, Dulu aku ingin menjadi ilmuwan sekaligus sastrawan. Aku memang dari dulu suka sastra, terutama puisi. Walaupun malas membaca novel yang tebal-tebal, tapi aku setidaknya mampu membedakan, mana novel yang berbobot dan mana yang tidak, dan bagaimana dasar membangun bobot sebuah novel. Menurutku, bobot suatu novel tidak tergantung dari bagaimana novel itu disampaikan, tapi apa yang disampaikan di dalam novel tersebut.

Hal ini merupakan sebuah kesimpulan dari pengalamanku terdahulu bahwa ternyata ada juga novel yang dibawakan secara gaul dan bahasa yang -beneran deh, itu- ga makna banget. Tapi ternyata di pertengahan dan akhir cerita, novel ini menyampaikan pesan yang menurutku keren banget.

Lalu, bagaimana dulu aku ingin menjadi ilmuwan? Hmm, mungkin ini berawal dari sikap tak mau kalahku dengan orang lain, terutama rival-ku dulu di SMA. Yah, dari segi pelajaran, aku menang. Tapi tidak dari segi agama. Yah, mengingat beliau ini ketua rohis di SMA kami.

Mungkin karena ucapan beliau di kelas yang menyatakan, “aku ingin menjadi seorang da’i sekaligus ilmuwan muslim.” Kalimat ini memang -jujur kuakui- sangat mempengaruhiku. Aku merasa, mengapa aku yang (merasa doang, sombong pisan yahh…) “lebih pintar” di kelas dari dia tidak berfikir sampai sejauh itu. Hmm, lambat laun aku sadar. Bahwa ini semua tergantung kedewasaan. Tergantung wawasan kita dan bagaimana kita berkontemplasi dengan kehidupan. Bukan hanya sekedar menumpuk ilmu sebanyak-banyaknya namun tak tahu esensi dari mengapa kita harus memiliki ilmu tersebut?

Dan akhirnya, aku mengambil kesimpulanku sendiri, jalanku sendiri. Aku memang masih bisa menjadi seorang ilmuwan. Tapi itu bukan interest ku. Aku lebih menyukai menjadi seorang engineer, seorang insinyur. Dan tentu saja, hal yang paling penting dari itu semua, dan paling awal dari semua keputusanku, aku ingin menjadi seorang da’i, da’i yang dalam kehidupannya terus berdakwah kepada Allah, dan dalam kematiannya, pengaruh dakwahku masih ada. Bismillahir Rahmanir Rahiim.

Visi dan Pemaknaan Kehidupan

Setelah memilih untuk menjalani hidup sebagai seorang da’i di bidang keinsinyuran, masih banyak pilihan hidup yang harus kujalani. Apa itu kehidupan? Untuk apa hidup? Bagaimana kita menjalaninya? Apa yang paling kuharapkan dari kehidupan ini setelah kematianku? Entah kenapa, semua pertanyaan ini tak ada habis-habisnya untuk dijawab. Seolah memang inilah kehidupan, seolah memang inilah esensi dari kehidupan, yakni terus mempertanyakan apa alasan hidup dan apa esensi dari kehidupannya sendiri, dan akhirnya menjalaninya, dengan suka cita.

Esensi memang bergantung dari bagaimana dan sejauh apa si penyusun makna ini mampu merangkai makna di antara belantara kehidupan. Karena kehidupan terus dijalani, karena itu pemaknaan kita terus berkembang dan berubah, sehingga akhirnya visi kita pun berubah. Namun, biasanya, visi paling inti dari kehidupan kita jarang sekali berubah. Mungkin lebih tepat jika dikatakan: basis paradigma kita jarang sekali berubah.

Visiku saat ini

Saat ini, aku punya sebuah visi

1. Menjalani kebenaran apa adanya

2. Seandainya kebenaran itu belum kujalani, maka kembali ke poin pertama (kembali ke jalan yang benar)

Yah, cukup singkat memang…. Ini memang landasan dari visiku. Barangkali inilah visiku yang paling mendasar dan benar-benar menunjukkan paradigmaku dalam menjalani kehidupan. Visi ini tak pernah berubah sejak aku kelas 1 SMP. Namun, ejawantah dari visi inilah yang terus berubah. Akhirnya, pemaknaanku terhadap kehidupan membawaku mengambil 4 buah visi “anakan”, yang dengan jujur kuungkapkan di hearing calon ketua MSTEI yang lalu:

1. Menjadi Agent of Change, Guardian of Value, dan Iron Stock bagi bangsa Indonesia,

2. Memperbaiki akidah umat Islam,

3. Ikut serta dalam usaha membangun Khilafah,

4. Mempersatukan umat manusia sehingga manusia menjadi merasa satu keluarga (besar).

Akan sangat panjang jika semua ini kubahas satu-per-satu. Karena itu aku ingin membahasnya di dalam artikel yang berbeda di lain waktu.

  1. Andri Haryono
    Rabu, Desember 17, 2008 pukul 10:03 am

    fotonya serem..

  2. Senin, Desember 29, 2008 pukul 11:57 pm

    wahyuuu…
    kau mendapat hadiah tahun baru darikuuu… huehehe…
    buka:
    http://tienevy.blogspot.com/2008/12/huwew.html

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: