Beranda > Opini, Pengabdian Masyarakat > Jika Berbagi Itu Indah, Mengapa Tidak Bersegera Saja?

Jika Berbagi Itu Indah, Mengapa Tidak Bersegera Saja?

Selasa, November 18, 2008 Tinggalkan komentar Go to comments

Kawan, pernahkah kawan merenungi arti kehidupan? Mengapa kita hidup? Mengapa setelah menjalani kehidupan ini, kita akan mati, kemudian tiada; menjadi debu yang akan terbang terbawa angin, tersapu hujan dan badai…

Dimana kita setelahnya? Bagaimana kita disana? Apakah Tuhan hanya menciptakan kita lalu mematikan kita begitu saja? Dimanakah peran kita?

Kawan, pernahkah melihat saudara-saudara kita yang kelaparan? Kita semua pernah lapar dan kelaparan. Tapi itu tak seberapa. Karena toh, dalam benak kita, kita pasti akan makan lagi. Tapi bagaimana dengan mereka? Dalam benak mereka, makan hari ini pun sudah syukur. Tak tahu apakah esok masih bisa mencicipi makanan lagi. Tak punya apa-apa yang bisa menambal sedikit saja rasa lapar yang melilit dan membuat pedih hati mereka.

Kawan, pernahkah mengetahui mengapa ada pria yang mengenakan pakaian wanita? Bernyanyi, dan menarik diri dalam tertawaan orang-orang. Hanya demi recehan uang yang akan dibelikan sebungkus nasi. Mungkin mereka tertawa, tapi hati mereka menangis. “Apa lagi yang bisa ku lakukan? Cuma ini jalan terakhir untuk menyambung kehidupan.”

Kawan, pernahkah melihat saudara-saudara kita yang tinggal di bawah jembatan? Ironis memang, karena mereka tinggal di jakarta, dekat dengan para pejabat yang bertanggung jawab dengan negeri ini. Tidur mereka beratapkan dinginnya malam. Terjaganya mereka beratapkan panasnya siang. Untuk makan, mereka mencari belas kasih orang-orang, atau berusaha dengan tangannya sendiri, memunguti sisa-sisa makanan di sampah yang berserakan.

Kawan, pernahkah melihat kekejaman perang? Di sana, bau busuk tercium, darah berceceran. Di sini, tubuh yang dingin membiru tergeletak, tercabik-cabik, hangus, dan tidak utuh lagi. Jauh disana, wanita-wanita menjerit, anak-anak menangis, rumah penduduk porak-poranda, tersapu dalam badai debu, yang juga menerbangkan harapan sepertihalnya utopia…

Lalu, apa yang telah kita lakukan? Kita selalu mengeluh dengan banyaknya tugas. Kita juga mengeluh dengan banyaknya masalah keseharian yang kita hadapi. Kita juga selalu mengeluh hanya karena tidak sempat beristirahat beberapa saat saja… Kenapa kita tak bersyukur, dengan kondisi kita sekarang ini. Kita tak perlu khawatir dengan makanan. Kita tak perlu khawatir dengan dinginnya malam.

Apakah hal tersebut adil? Lalu, menurutmu, dimanakah letak keadilan? Kawan, barangkali di antara rizki kita ada rizki mereka. Barangkali memang kita diciptakan untuk berbagi dengan mereka. Supaya menjadi amal bagi kita. Supaya kita menjadi air yang mengurangi kepedihan mereka dan menyejukkan hati-hati mereka. Padahal amalan adalah teman setia kita, satu-satunya yang menemani kita, di hari yang tiada yang dapat menolong selain-Nya.

Siapapun hanyalah manusia biasa. Tak memiliki hak untuk menggurui. Namun, kita bisa menyampaikan, kebaikan yang terbersit dalam hati kita.

  1. Fuad Fajri
    Senin, November 24, 2008 pukul 12:03 pm

    wahyu..
    dilink ya blognya..
    terima kasih atas kunjungannya..
    hehehee

  2. frealynn
    Kamis, Desember 4, 2008 pukul 5:24 pm

    hiks… kok baru baca sekilas aja udah kebawa senduu… nice blog kk ^^ it inspires!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: