Beranda > Dokumentasi Kehidupan > Mimpi Tentang Dakwah di STEI, 9 November 2008

Mimpi Tentang Dakwah di STEI, 9 November 2008

Mungkin kalimat judul di atas cukup ambigu. Mimpi yang dimaksud bukan mimpi yang berarti harapan, tapi bunga tidur… Hehe… Tak disangka tidur yang cuma 40 menit, bisa berbuah bunga. Mungkin mimpiku ini gara-gara SMS dari kang Fahmi, ketua MSTEI* periode 2007-2008, sekitar jam 9 malam. Bunyinya kayak gini:

 

Dakwah di STEI emang berat, tapi yakinlah bahwa kita tidak sendiri. Kalaupun kita sendiri, ingatlah bahwa ada Allah sebagai tempat bernaung kita. Semua hanya demi tegaknya Islam.

 

Lalu, aku beranjak tidur sekitar jam 10.30. Aku tidur di atas sajadah. Kamarku masih berantakan. Ga karuan lah. Semoga nanti jam 3 bisa bangun. Biar bisa beres-beres, terus ngerjain tugas Basis Data deh. Tampaknya waktunya cukup. Dengan segera kusetel alarm HP-ku, lalu kuletakkan selimutku yang masih terlipat di atas perut dan dadaku.

 

Allahumma bismika amuutu wa ahya.

 

Jarang-jarang nih doa sebelum tidur. Biasanya bablas😛, pikirku.

 

Kemudian, aku memejamkan mata. Cahaya yang terselip menembus kelopak mataku semakin pudar, meremang, dan diganti dengan fragmen-fragmen gambar… Huh, tampaknya aku mulai bermimpi… Kemudian, akhirnya kesadaranku benar-benar hilang.

 

Aku dan seorang pria seumuranku berjalan bersama. Diceritakan beliau ingin mengenal dakwah di STEI. Lalu aku memulai pembicaraan, “Pertama-tama, kita harus mengenal kondisi di STEI dulu,” ucapku dengan tertawa lebar.

 

“Lihatlah, ini salah satu bagian dari STEI,” aku menunjuk sebuah jalan berbatu yang kira-kira selebar 5 kaki. Jalan ini begitu panjang, lurus melulu, dan hampir tak terlihat ujungnya. Jalan ini kering, berbatu, tidak banyak berdebu. Jalan itu ditutupi tanah coklat muda, dan jarang terdapat rumput – ciri-ciri jalan yang sering dilalui orang. Di sebelah sisi kiri atau kanannya (aku lupa yang mana), terdapat sungai yang berair kecoklatan. Yah, seperti umumnya kali di Indonesia.

 

Kami lalu berjalan setapak demi setapak. Agak sulit dan harus hati-hati. Lalu, aku berkata kepada kawanku tersebut, “Hati-hati dengan ular. Kadang-kadang ada.”

 

Tak lama kemudian, kami bertemu dengan ular. Satu, dua, lama-lama semakin banyak hingga kami harus berhati-hati melangkah. Ular-ular itu masih cupu, dan kebanyakan berwarna kecoklatan bercampur dengan noktah ungu. Aku merasa bisa menghilangkan racunnya kalau tergigit.

 

“Semoga kita tidak bertemu dengan ular kobra. Soalnya aku ga tahu bagaimana cara menghilangkan racunnya,” ucapku dengan senyum yang miring di bibir.

 

Semakin jauh melangkah, kami harus semakin berhati-hati karena banyaknya ular. Langkah kami semakin lebar (namun lamban) untuk menghindari menginjak atau digigit ular.

 

Ah, sudah sampai di ujung jalan. Tampaknya di seberang sudah beda wilayah. “Kayaknya udah sampai. Eksplorasi udahan. Kita (akan) balik,” ucapku.

 

Lalu kami beranjak pulang. Hmm, wilayah dakwah tak hanya labtek saja, tapi juga harus sampai sini, pikirku.

 

Namun, di perjalanan pulang, kami menemui lebih banyak ular dan ditambah hewan-hewan lain, seperti lintah, pacet, siput tak bercangkang, dan entah apa lagi. Banyak banget jenisnya. Tampaknya, kali ini, hewan-hewan ini mengincar kami.

 

Satu demi satu, hewan-hewan itu melompat ke arah kami dan menggigit tangan dan leher kami. Ada beberapa hewan yang berhasil menempel kuat di tangan dan leherku. Kami mulai berlari sekencang-kencangnya dan mencopoti hewan-hewan berlendir itu dari tubuh kami.

 

“Jangan dibunuh. Jangan sampe nginjek,” ucapku memperingatkan ke kawanku yang masih sibuk dengan hewan-hewan “kenalan baru”-nya. Bagaimanapun juga, mereka makhluk hidup. Cukup sedikit ditekan dengan jari atau lidi, mereka akan lepas dan jera.

 

Akhirnya kami lolos. Huuuff. Setelah itu, kami berpapasan dengan beberapa orang. Mereka berjalan dengan barisan yang cukup rapi. Namun, mereka berjalan dengan tatapan kosong, seolah tanpa jiwa. Binar mata mereka seolah berkata, tujuan kami hanya satu. Di antara mereka, ada sebagian kawan-kawan kami di Informatika.

 

“Oh ya. Satu hal yang harus diingat, di dalam dakwah, wajar jika terjadi penolakan. Ayo kita ajak mereka (satu per satu),” ucapku ke kawanku, lalu kami berpisah menuju ke bagian barisan yang berbeda. Aku berbicara kepada mereka. Cukup panjang dan lebar, tapi mereka berlalu di hadapanku. Hmm, tampaknya harus benar-benar pendekatan perseorangan, pikirku.

 

Lalu aku berpapasan dengan seorang gadis berjilbab hitam. Lalu aku mencoba berbicara dengannya. Namun, beliau juga berlalu begitu saja. Kemudian, aku memeluknya** dari belakang, dan berbisik ke telinganya yang diselimuti jilbab. Namun, beliau masih tetap menolaknya. Aku masih terus berbicara dan mengajaknya, namun masih tetap ditolak. Tak sengaja pipi kami bersentuhan, dan seketika itu aku melihat wajahnya dengan cukup jelas dan aku merasa dia cukup cantik. Aku melihat bola matanya yang melirik ke arahku yang masih berdiri di belakangnya. Bola matanya hitam dengan kelopak mata yang kecil. Tiba-tiba aku merasa sebenarnya gadis ini memiliki akhlak yang manis. Setelah itu, perasaanku tidak enak dan menjadi berat, dan fragmen-fragmen penglihatanku mulai kacau. Tampaknya dari situlah, kemudian aku sadar kalau ini cuma mimpi. Namun, aku masih terus berada dalam alam mimpi dan ga bisa pindah alam😛.

 

Penglihatanku semakin kacau dan terus berganti gambar yang lambat laun menghitam. Terkadang aku melihat gadis itu berjilbab hitam. Namun, sesaat aku melihatnya tanpa jilbab. Rambutnya lurus dengan panjang sebahu dan agak kecoklatan jika tertimpa terik mentari. Kemudian gadis itu tampak berjilbab lagi. Saat itulah, gadis itu memalingkan wajahnya dan menjauh dariku, mengikuti barisan orang-orang tadi. Aku berbalik arah mengikuti mereka. Kemana mereka? pikirku.

 

Kekacauan fragmen gambar mulai berkurang. Jauh di depan, aku menemui lebih banyak lagi barisan yang menuju ke arahku. Barisan itu kemudian berkumpul dan bertemu di suatu persimpangan jalan. Mereka semua menuju ke arah tersebut dan keluar dari jalan lebar ini. Jadi disini! Suatu saat dakwah akan sukses, pikirku.

 

Aku berlalu dan meninggalkan mereka. Aku menuju arah yang berbeda, mencari orang lain. Tiba-tiba aku menemui beberapa anak laki-laki kecil yang bersepeda dengan arah yang sama denganku di depanku. Mereka mengenakan kopiah. Lama kelamaan, jumlah mereka semakin banyak. Entah darimana asalnya perasaan ini, aku merasa ini adalah contoh kesuksesan dakwah. Wah, kalau begitu mana nih orang-orang yang lebih dewasa? Aku tersenyum dalam hati.

 

Kemudian aku menemui beberapa wanita. Mereka semua bercadar dan berjalan seiringan ke arah yang berlawanan denganku. Hijab*** mereka berwarna merah dan biru. Aku jadi teringat dengan baru kurung khas Afghanistan. Bedanya, mata mereka masih terlihat.

 

Jumlah mereka semakin lama semakin banyak. Dan mereka semuanya bercadar dan berwarna merah atau biru. Wah, ga variatif. Mana nih, yang ga bercadar? Berarti pemahaman mereka sama semua dong!? Ini berarti dakwah baru nyentuh orang-orang yang pemahamannnya memang sudah baik. Dakwah masih belum sukses, pikirku.

 

Namun, bagaimanapun juga, aku tetap senang. Walau tidak ada satu pun ikhwan yang sudah dewasa di antara mereka. Jumlah mereka semakin banyak dan memenuhi penglihatanku. Kemudian aku merasa ada seseorang yang mendekapku dari belakang. Cukup kuat.

 

Kemudian aku merasa, di antara mereka, ada yang memuji-mujiku. Sebagian wanita di antara mereka ada yang bersujud kepadaku. Tiba-tiba, ada beberapa orang dari arah yang tak jelas berkerumul memelukku. Saking banyaknya, aku tak tahu siapa mereka dan apakah mereka pria atau wanita.

 

Namun, semakin banyak jumlah mereka, orang yang mendekapku dari belakang semakin mengencangkan dekapannya. Sedikit demi sedikit, sampai aku hampir tak bisa bernafas. Dalam keadaan itu, aku masih tetap senang, karena akhirnya orang-orang yang tersentuh oleh dakwah semakin banyak.

 

Semakin lama, nafasku semakin sesak, dan fragmen gambar penglihatanku semakin kacau dan pudar. Dan akhirnya, orang itu mengencangkan dekapannya sampai level yang aku merasa sudah tidak tahan lagi. Lalu aku terbangun

 

Huh, mimpi yang aneh. Masa’ STEI kayak gitu sih jalan-jalannya. Huff, namanya juga mimpi. Aku melihat jam, 11.10 malam. Baru 40 menit, pikirku. Dan setelahnya, aku sudah tak bisa tidur lagi.

 

Keterangan:

*) Bagi yang tidak tahu apa itu STEI dan MSTEI, berikut penjelasannya: STEI itu Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, salah satu Fakultas di ITB. Hmmm, sementara MSTEI itu Muslim STEI, sebuah LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) yang memiliki basis massa di STEI.

 

**) Lagi-lagi mimpiku agak vulgar.😀 Tapi, asli. Di dalam mimpiku itu aku ga kepikiran yang aneh-aneh kok. Jangan salahkan aku yach? Anggap aja ini kayak makna konotasi dari kata “merangkul” di dalam bahasa Indonesia.😛

 

***) Yang kumaksud dengan hijab di sini adalah baju kurung dan semua pernak-perniknya seperti cadar.

  1. Senin, November 10, 2008 pukul 5:13 pm

    selamat……….

    sekarang dah jadi ketua mstei ya…

    semangat ya
    2007 mendukungmu

  2. Selasa, November 11, 2008 pukul 8:35 am

    sughoi,,,,
    mimpi seorang qiyadah STEi emang beda. Gimana caranya bisa sampe ke kebun binatang gitu y? he2.

    eniwei, sukses ya amanah barunya!

  3. Selasa, November 11, 2008 pukul 11:14 am

    Syukron… Mohon dukungannya yach…

    Entah ya kang… Kok bisa ya jadi kebon binatang gitu? Mending kalo hewannya yang cakep-cakep kayak kucing atau burung atau laennya lah… Hehe…

  4. anbarsanti
    Sabtu, November 15, 2008 pukul 8:40 am

    lintah, pacet, siput tak bercangkang,

    dalam AQ disebut dg binatang melata. perumpamaan binatang melata dalam AQ artinya adalah orang yang […]

  1. Rabu, November 12, 2008 pukul 6:56 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: