Beranda > Opini > Ahlus Sunnah Sejati

Ahlus Sunnah Sejati

Baik itu Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Salafiyyin, Persis, Muhammadiyah, maupun NU, bersama dengan orang-orang yang berpegang dengan sunnah Rasululah, kesemuanya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan kesemuanya adalah pengikut Salafush-sholih, walaupun ada satu saja di antara mereka yang tidak mengakui diri sebagai Ahlus Sunnah. Karena hakikatnya, kebenaran itu tidak hanya tergantung dari penisbatan atau pengakuan belaka.

Karena itulah, Ahlus Sunnah semestinya bersatu dalam satu barisan untuk melumpuhkan kemudian membinasakan musuh-musuh Islam yang nyata permusuhannya terhadap Islam, dan melunakkan dan mencairkan hati musuh-musuh Islam yang tersembunyi (orang-orang munafik) sampai mereka memahami jalan yang lurus ini. Yang jika kita melawan orang-orang munafik ini, mudlarat-nya akan lebih besar, yang diantaranya adalah jatuhnya harga kaum muslimin dan membuat musuh-musuh Islam tak gentar dengan kita karena menyangka adanya perselisihan besar di antara kita. Sesungguhnya Allah-lah yang lebih tahu hati-hati manusia.

Sesungguhnya perjuangan itu masih panjang. Lebih panjang daripada usia manusia. Namun, jika kita tak mau mengorbankan usia, tenaga, dan jiwa kita, estafet pun akan selesai, sampai Anda saja. Dan anak-anak kita, cucu-cucu kita, mungkin suatu saat, tak akan pernah bisa merasakan keindahan agama ini, dan mungkin hanya akan menemukannya melalui lembaran-lembaran usang saja…

Lihatlah sebuah jalan, jalan dimana Adam bersujud memohon ampun atas dosa-dosanya, Ibrahim mencari-cari Tuhannya, kemudian Tuhannya menunjukkan diri-Nya, dan Ibrahim pun membangun ka’bah sebagai rumah Tuhan. Lihatlah disana, jalan dimana Nuh menangis karena sedikit kaumnya, kemudian membangun kapal sebelum hujan badai tiba, kemudian ditertawakan kaumnya. Lihatlah jalan dimana Musa dikejar-kejar kaumnya untuk dibunuh, dan Isa akan disalib lalu diganti oleh muridnya yang durhaka dengan kekuasaan Allah.

Lihatlah jalan dimana Imam al-Bukhari merantau mencari hadits, Ibnul Qayyim dipenjara, Hasan al-Banna ditembak mati, Said Hawwa juga dipenjara, Imam Ahmad dipecut hingga tangannya hampir terlepas karena tak mau mengakui al-Qur’an sebagai makhluk. Lihatlah jalan dimana imam al-Albany menangis karena mendengar cerita dari mimpi seorang wanita yang melihat beliau berjalan di jalan yang sama dengan Rasulullah. Jalan dimana al-Qaradhawi menyeru para pemuda untuk berjihad di Irak.

Lihatlah jalan dari kisah seorang pemuda yang menolak berzina dengan seorang wanita terhormat. jalan dimana seorang jundullah kesepian dan terasing dari kaumnya, jalan dimana seorang cendekiawan dipenjara karena memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.

Lalu dimana Anda? Apa yang Anda lakukan? Dimana Anda dari jalan tersebut?

Jawablah, dengan nurani dan akal kalian! Jawablah! Dengan amal perbuatan kalian! Jangan perdulikan apa yang orang lain lakukan, sebelum Anda perduli pada apa yang Anda telah lakukan!

Kategori:Opini
  1. Senin, Agustus 25, 2008 pukul 3:20 pm

    ya akhi… kembalilah ke jalannya para sahabat

    sesungguhnya perpecahan manhaj sudah menjadi fithroh manusia.
    dan boleh jadi kita mengambil ilmu selain dari jalan para sahabat

    namun, apakah kita ini seorang berilmu sehingga mengetahu ini bid’ah .. ini sunnah.. ini haq dan ini bathil
    mungkin kita perlu berbincang2 lagi melalui ketemu lgsg ato via YM yaa

    add aja di barkan_hadi04@yahoo.com

  2. Kamis, Agustus 28, 2008 pukul 2:53 am

    Allaahu Al-Musta’aan..

    Silakan antum baca some articles at http://www.asysyariah.com. Therein you’ll find out who Hasan Al-Banna, Qaradhawi and the like are, besides JT, IM, HT, etc.. And that there is no parallel between Hasan Al-Banna and Ibnul Qayyim, such parallel doesnt suit. Hasan Al-Banna, Qaradhawi, and Sa’id Hawwa can never ever reach the level of Ibnul Qayyim rahimahullaah or that of Al-Albaani and Imaam Ahmad rahimahumallaah, they have a very clear different manhaj which is very fundamental.

    Bacalah manhaj mereka, niscaya antum akan menemukan perbedaan yang sangat fundamentil.

  3. Jumat, Agustus 29, 2008 pukul 1:03 am

    @ Akhukum Barkan
    Perpecahan Manhaj memang menjadi takdir manusia. Tapi bukan fitrah. Jika semua manusia mau kembali kepada fitrahnya, niscaya semua manusia bersatu di dalam kebenaran. Namun, salah satu keniscayaan bagi manusia adalah bahwa tidak semua manusia akan kembali pada fitrahnya. Sebagian terperangkap hawa nafsunya. Sebagian terjebak oleh doktrin-doktrin agama mereka. Sebagian terjatuh ke dalam kebodohan akan ilmu Allah. Kita memang bukan orang yang paling banyak ilmunya. Ana juga tidak menjustifikasi perbuatan orang lain adalah bid’ah, bukan? Justru karena itulah ana mengambil sikap ini, sikap pertengahan yang moderat.

    @ Amatullaah
    Apakah antum yakin dengan jalan yang antum ambil? Bagaimana anda bisa memahami bahwa apa yang anda yakini itu benar? Jika anda berkata, “Karena ini sesuai sunnah.” Maka saya balik bertanya, “Benarkah sunnah yang anda pahami sebagaimana sunnah yang salafush-shalih pahami dan bukan hanya sunnah yang dipahami segelintir orang saja yang justru bertentangan?” Dan lagi, jika antum memahami segala sesuatunya dengan mentah-mentah, maka antum akan terjebak pada “persepsi dari manusia yang menyampaikan” dan bukan pada “esensi dari apa yang ingin disampaikan”.

  4. fairuz
    Kamis, September 4, 2008 pukul 9:15 am

    perpecahan esensinya karena tidak ada kesatuan pemikiran, perasaan dan peraturan yang membutuhkan kepada kesatuan kepemimpinan di bawah khilafah ‘ala manhaj annubuwwah. syukron.

  5. anbarsanti
    Jumat, September 26, 2008 pukul 1:03 pm

    ….semestinya bersatu dalam satu barisan untuk melumpuhkan kemudian membinasakan musuh-musuh Islam yang nyata

    setuju. yang nyata maupun yang tersembunyi.

    hmmm… ahlus sunnah seharusnya tidak melumpuhkan musuh dengan melunakkan dan mencairkan hati musuh, baik dengan bekerja sama dengan mereka maupun dengan berada dalam sistem mereka. sunnah tidak mencontohkan seperti itu.

    saya yakin suatu saat nanti akan datang kebenaran sejati.
    kebenaran yang saat ini -sesuai sunnah- sedang terasing dan terfitnah.

  6. Sabtu, September 27, 2008 pukul 1:44 pm

    Halo.. first comment..

    emang aneh orang-orang sekarang..
    belajar islam banyak-banyak..
    bukannya tambah banyak sodaqohnya, malah tambah ekslusif + ga peduli ma tetangga2nya
    bukannya tambah luas silaturahimnya, malah tambah pinter njelek2in orang lain (yg beda fiqroh)

    @ Amatullaah : baca juga http://salafytobat.wordpress.com/

    perpecahan esensinya karena tidak ada kesatuan pemikiran, perasaan dan peraturan yang membutuhkan kepada kesatuan kepemimpinan di bawah khilafah ‘ala manhaj annubuwwah

    saya mo daptar dong jadi calon khilafah boleh ga? S1 boleh, apa mesti S3?😛

  7. Widodo
    Senin, Oktober 6, 2008 pukul 4:08 pm

    Betapa banyak orang yang mencari kebaikan, tapi tidak mendapatkannya, karena salah jalannya………………..
    Betapa banyak orang mengaku punya hubungan dengan layla, tapi layla tidak mengakuinya……………….
    Sungguh musibah yang besar, ketika seorang berada di atas jalan yang salah, namun ia merasa di atas kebenaran…………..
    Kembalilah kepada jalannya para ulama yang ma’ruf berpegang dengan sunnah, mengamalkannya dan membelanya……………
    Sungguh kebenaran itu tidak bisa bersatu dengan kesesatan, seperti air tidak bisa bersatu dengan bensin………….
    Wallahu a’la wa a’lam….

  8. Jumat, Januari 2, 2009 pukul 2:07 pm

    @ aisar

    Mau jadi Khalifah mah gak perlu gelar segala. Asal kaum Muslimin sepakat untuk membai’at antum, jadilah antum Khalifah bagi mereka.

    Insya’a Allah..

  9. Jumat, Januari 2, 2009 pukul 6:09 pm

    @ زهير

    Hehe… K’ Aisar itu kayaknya bercanda pisan. Jangan diambil hati.😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: