Beranda > Dokumentasi Kehidupan > Bapak yang teraniaya: 12 hari bekerja tanpa upah

Bapak yang teraniaya: 12 hari bekerja tanpa upah

Bandung, 18 Juli 2008, pukul 13.50 WIB

Jalan Tempat Kami Bertemu

Jalan Tempat Kami Bertemu

Siang hari ini, matahari tak begitu panas menyengat bumi. Angin pun tak begitu kencang menerba dedaunan. Setelah sholat jum’at dan makan siang, aku hendak mengambil foto untuk keperluan tertentu dengan kamera HP-ku.

Letak tujuanku adalah pesisir sungai yang memotong jalan siliwangi. Saat itu aku baru saja menyusuri tepi jalan siliwangi setelah melewati sangkuriang. Tiba-tiba di hadapanku, seorang bapak tengah berjalan kemudian berbalik arah dan menuju ke arahku. Kemudian beliau menghampiriku dan sambil terbata-bata (barangkali karena sedikit kelelahan) menanyakan padaku kemanakah arah ciroyom. Bapak itu juga menyebutkan arah rute yang dilalui angkutan caheum-ciroyom, tapi tidak tahu yang mana arah ke ciroyom. Gawat, yang mana ya? aku benar-benar lupa! Aku tidak pernah ke dua tempat itu sih.

Aku tentu saja harus jujur dengan bapak itu. Aku beralasan, “Maaf pak. Saya kurang tahu. Ini juga kebetulan lewat.” Yah, itulah alasan yang benar-benar cuma alasan. Hehe…

“Ah, coba tanya ke seberang sana pak. Mungkin tahu,” saranku sambil menunjuk ke arah pertigaan yang biasanya dijadikan tempat pemberhentian angkot kalapa-ledeng untuk mencari penumpang.

Setelah aku mengatakannya, aku baru menyadari kalau ada seseorang yang berjaket coklat agak jauh di belakang kami yang melewati tepi jalan dan arah yang sama. Bapak itu pun berlalu dari hadapanku dan tampak menuju ke arah orang tersebut.

Aku berlalu sambil mengingat-ingat, kemanakah arah ciroyom? Bodoh banget sih! Masa aku benar-benar lupa.

Setelah berjalan beberapa langkah, aku menengok ke belakang. Bapak tersebut tampaknya sudah menanyakannya ke orang tersebut dan berbalik ke arah semula, seperti sebelum berpapasan denganku. Bapak itu berjalan jauh lebih cepat dariku. Sehingga hanya beberapa detik saja, jarak di antara kami hanya tinggal 2-4 langkah. Aku membalikkan badanku dan menyapa bapak tadi. Ah tampaknya arah perjalanan bapak tadi memang benar dan kalau saja aku tahu, bapak itu tak perlu bolak-balik begini. Payah.

Bapak itu tampak murah senyum. Namun kerut-kerut di wajahnya menunjukkan kehidupan beliau yang sulit. Rona matanya menunjukkan kesedihan dan sesuatu … entahlah, aku tak tahu apa itu.

Aku membuka sapaku dengan senyuman dan sebuah pertanyaan, “Sudah tahu pak?”

“Sudah. Benar ke arah sana.”

“Bapak mau ke ciroyom?” tanyaku.

“Tidak,” lalu bapak itu menyebutkan suatu tempat yang aku tidak tahu dimana dan aku juga sudah tak bisa mengingat lagi apa namanya.

“Oh, begitu.”

“Saya baru saja kena tipu. Kerja ga dibayar, mandornya kabur,” begitu tampaknya ucapan beliau ketika pertama kali mengutarakan ceritanya padaku.

“Eh, bapak kerja dimana?” tanyaku.

“Di eee, ga tahu dek, di rumah-rumah petak kecil kayak BTN gitu. Tepatnya di cileungsi dek,” jawab beliau.

“Kerja ga dibayar. Harusnya kan tukang dibayarnya hari jum’at. Eh, ternyata mandornya kabur,” beliau melanjutkan curhatnya.

“Eh, berarti bapak jalan kaki dari cileungsi?” tanyaku dengan heran.

“Iya. Mau gimana lagi. Ga punya duit. Kerja dua minggu ga dibayar. Mulai dari hari senin. Ini mau ke ciroyom dulu. Siapa tahu ada sesuatu.”

Masyaa Allah. “Berarti hari senin minggu lalu ya pak?”

“Iya. Berarti sudah … ,” beliau kemudian menghitungnya, “satu… dua… tiga… ,” dan seterusnya. “12 hari, iya dua belas hari,” beliau bercerita dengan nada kesal bercampur dengan kecewa dan nelongso.

“Berarti ga cuma bapak ya, yang ga dibayar?”

“Iya. 11 orang.”

“Dimana bapak bertemu dengan mandor itu?” tanyaku penasaran.

“Kami bertemu, terus kerja di cileungsi. Saya bekerja disana sebagai tukang.” Tampaknya beliau bingung harus menjawab apa. Tapi aku tak mau memaksa menanyakannya.

Kemudian aku melanjutkan dengan pertanyaan lain, “Terus bapak punya kenalan di ciroyom?”

“Enggak sih. Tapi buat ke tempat tinggal saya, turun di ciroyom dulu. Yah, siapa tahu ada yang kenal. Saya juga mau jualan di sana. Jualan alat-alat tukang. Ini ada gergaji, kapak, … Tapi ga laku-laku, dek,” ujar beliau sambil memperlambat jalannya dan membuka sedikit tas pinggang yang sejak tadi dicangking sambil dipegang di sebelah sisi kiri beliau. Kemudian beliau memperlihatkan sedikit gergaji itu. Gergaji itu sudah cukup tua, namun masih tajam, tanda sering digunakan dan diasah.

Kelihatannya uang hasil penjualannya dimaksudkan untuk membeli makanan. Jangan-jangan bapak ini belum makan dari siang? Atau jika mandornya kabur sejak kemarin, kemungkinan besar bapak ini belum makan sejak pagi. Masyaa Allah. Seketika itu, hatiku miris.

Aku sudah seringkali dibohongi orang. Bahkan oleh temanku sendiri. Namun kali ini aku yakin bapak ini tidak berbohong.

Pertama, terlalu banyak kebetulan yang terjadi. Kebetulan aku bertemu dengan beliau, kebetulan beliau bertemu dengan pemuda berjaket coklat itu, kebetulan juga akhirnya kami searah. Hampir bisa disebut kebetulan juga, aku melebarkan pembicaraan. Di jalan ini, hanya ada 3 pejalan kaki, yaitu kami. Lagi pula pemuda berjaket coklat tersebut sudah pergi. Kelihatannya naik angkutan atau menyeberang jalan. Aku ragu ini penipuan berencana, mengingat beliau tak memiliki tampang yang seperti itu…

Namun, bagaimanapun juga, bukti ini belum kuat.

Kedua, akulah yang melebarkan pembicaraan. Jika aku tak bertanya macam-macam, beliau tak mungkin menceritakan perihal bahwa beliau tak memiliki uang. Jika beliau tak menceritakannya, aku tak mungkin iba.

Ketiga, bapak ini sejak awal tidak meminta uang. Aku ragu beliau sengaja mengulur waktu mengingat beliau tidak tahu tujuanku. Beliau tidak mungkin bisa memastikan timing perpisahan kami secara tepat. Lagipula, seandainya beliau memancing rasa ibaku (walaupun kemungkinan itu kecil), beliau tak bisa memastikan berapa besar uang yang kuberikan, yang mana hal tersebut tak dapat dijamin akan sebanding dengan jerih payah, seandainya benar, rangkaian penipuan yang penuh kesabaran tersebut.

Keempat, wajah dan nada suara beliau menunjukkan bahwa beliau jujur.

Kurasa empat faktor ini cukup, pikirku. Sesegera mungkin … aku akan … membantunya.

Ah. Aku terkejut. Rupanya sudah hampir sampai jembatan. Sebentar lagi aku harus berhenti. Aku harus mempercepat pembicaraan untuk membantunya walaupun sedikit. Sepertinya aku terlalu boros bulan ini dan budgetku hanya menyediakan 2x (Artinya bukan 2 kali. x adalah variabel bebas). Tapi, aku tak mau memotong pembicaraan di tengah-tengah.

“Ini sudah 2 kali.”

“Eh?” tanyaku meminta penjelasan untuk kalimat yang singkat itu.

“Dulu juga pernah waktu lebaran. Gaji saya ga dibayar.”

“Berarti lebaran tahun lalu ya, pak?” Masyaa Allah, waktu yang sangat dekat, pikirku.

“Iya.”

Kemudian beliau menghembuskan nafas berat. “Memang bukan rejeki,” ucap beliau dengan wajah pasrah yang membuat hati semakin miris.

Kemudian aku memperlambat lajuku dan berhenti. Bapak itu pun mengikutiku sambil menatap wajahku heran. “Emmmph, pak. Saya punya sedikit uang. Mungkin kalau bapak berkenan … ,” aku belum selesai melanjutkan ucapanku, namun bapak itu beranjak pergi dengan langkah yang lebih cepat sambil mengangkat telapak tangan kanannya lalu menggoyangkannya sebagai isyarat penolakan, “Eng-enggak usah!”

Ah. Gawat, aku tak boleh membuat bapak itu tersinggung. Aku semakin yakin beliau tidak berbohong dan juga aku merasa semakin ingin membantu beliau.

Aku kemudian mengejarnya dan sedikit merajuknya dengan nada yang sehalus mungkin, “Saya ikhlas kok, pak….”

Aku putus asa merajuknya. Kami telah menyeberang jembatan dan sampai di sebelah pemukimam di pinggir sungai.

“Maaf pak. Saya sudah sampai tujuan. Ma-mari pak…”, ucapku dengan wajah menunduk.

Ketika aku melihat wajah bapak itu, masyaa Allah, bapak itu juga berhenti dan terlihat sekali bahwa beliau dalam hati kecilnya masih menginginkan bantuanku, namun malu. Apa boleh buat. Keadaannya memang mendesak. Sangat wajar jika beliau memang jadi begitu.

“Ka-kalau begitu bagaimana kalau saya beli gergaji bapak? Gergajinya berapa pak?” tawarku. Saat itu aku merasa sudah tidak ada cara lain lagi.

Aku sengaja menawar gergaji daripada kapak. Barangkali bisa dipakai untuk membuat lemari tambahan untuk menampung buku-bukuku yang sudah tak muat di lemari bongkar-pasang-ku. Lagi pula dari dulu aku memang ingin belajar membuat lemari. Huh, padahal di kamarku ada 2 lemari. Lemari besi yang memang untuk menampung buku, dan lemari kayu yang memiliki space untuk pakaian dan buku. Tapi kedua-dua sudah penuh.

Tapi bapak itu tertawa, lalu diam. Dari wajahnya tampak ada rasa keberatan. Cukup aneh, pikirku. Tapi keberatan apa?

“Kalau begitu bagaimana kalau kapaknya?” aku agak memaksakan diri.

Tampak ada rona kegembiraan di wajah bapak itu. Aku merasa memiliki peluang. Ah tak apa-apa. Daripada tidak bisa…

“Sebenarnya harganya 2x, tapi saya jual dengan 1x,” ujar bapak itu dengan nada membuat iklan.

Lalu aku memberikan uang 2x secara sengaja.

“Ah, tapi saya tidak punya kembalian,” kemudian beliau menunjukkan padaku dompetnya yang kosong dengan wajah yang semakin tegang.

“Lihat ini, KTP saya sudah saya taruh di warung. Saya bilang, ‘Tidak apa apa, saya masih punya kopinya,'” beliau mengatakannya sambil menunjukkan kopi tersebut dan sebuah kartu biru yang aku tidak tahu apa itu. Terlebih lagi pikiranku saat itu masih menerawang.

Ketika tersadar, aku mulai ngeh, eh jangan-jangan KTP itu sebagai jaminan untuk makan tadi siang, pikirku. Setidaknya beliau sudah makan. Kalau aku memberikan 2x, sepertinya akan cukup untuk 3 hari termasuk hari ini. Itupun jika beliau terus berjalan kaki. Sepertinya lebih dari cukup untuk sampai rumahnya yang tercinta.

“Tidak apa apa pak?” bujukku yang mulai tidak sabar dan hampir putus asa.

“Tidak. Tidak!” beliau terus menolaknya dengan nada yang lemah.

Aku merasa tak ada cara lain. Aku langsung meletakkan lalu menekan uang tersebut begitu saja di atas tangan beliau yang setengah tertutup. Dengan ragu, beliau memandangku dan mengucapkan terima kasih.

Lalu aku menerima kapak itu lalu mengulurkan tanganku sambil tersenyum ingin berjabatan tangan. Dengan ragu, beliau membalas senyumku dan menjabat tanganku. Tangannya agak kotor, kasar, berat, dan jarinya-jarinya sangat besar. Walaupun telapak tanganku lebih besar dari pada tangan beliau, tapi 4 jari beliau kira-kira masing-masing sebesar jempolku. Yah, jangan tanya ukuran jari yang terakhirnya (yakni jempol).

Lalu kami berpisah, “Hati-hati pak,” ucapku menutup perjumpaan. Pergunakan uang tersebut dengan baik, pak. Gumamku dalam hati.

Lalu kami berpisah dan aku menaruh kapak itu di kantongku. Ternyata muat. Aku tak bisa membayangkan jika seseorang dengan postur tubuhku, ditambah tampang mahasiswaku, plus kemeja biru lengan panjang dan celana ngatung, ternyata jalan-jalan di tengah kota sambil membawa kapak. That’s unnatural. Orang dewasa akan terheran-heran sambil memandangiku, sementara anak kecil bisa merinding hanya dengan melihatku. Yah, setidaknya keadaanku tidak menunjukkan style seorang preman yang pengen nggasak seseorang.

Kapak Yang Diceritakan

Kapak Yang Diceritakan

Uh-huh, tapi, apa yang harus kulakukan dengan kapak ini? Aku hanya tersenyum sendiri.

Pertama, aku tak bisa menggunakan kapak. Aku selalu gagal dalam menggunakan kapak. Semua pemakaian kapakku adalah pada saat perayaan qurban. Aku kebetulan bertugas mengolah potongan tubuh sapi yang telah dikuliti untuk dipotong-potong menjadi lebih kecil supaya mudah dibagikan. Aku mencoba memotong tulangnya, tapi jadinya berantakan dan hancur. Yah, akhirnya aku diganti dan “beralih profesi” menjadi pemotong daging yang tulangnya telah diambil.

Kedua, seandainya aku sudah bisa menggunakannya, aku tak punya sesuatu yang bisa kukapak.

Yah, kusimpan sajalah. Sepertinya ini bisa menjadi kenangan seumur hidup.

  1. Senin, Agustus 4, 2008 pukul 9:41 pm

    Sedih ya tampaknya…
    Btw, kamu berhati mulia banget. Pasti Allah akan membalas dengan nikmat yang jauh lebih banyak. Amin…

    Mau pilih jalur yang mana nih, Wahyu. CS ato RPL???

  2. Rabu, Agustus 6, 2008 pukul 7:01 am

    Iya…. Sedih banget. Kadang-kadang aku mikir, kira-kira bapaknya sedang apa ya? Gimana keluarganya ya?

    Amin, Amin. He… Kayaknya RPL nih, Indra. Kalau indra pilih apaan?

  3. chie135
    Senin, Oktober 27, 2008 pukul 11:30 am

    Wahyu, udah lama chie ga baca blogmu…
    tersentuh dengan artikelmu sekaligus malu, huhu

    oia, mau kasih kamu tugas di blog. sekalian aja, kan udah bikin visi misi MSTEI… diposting di blog, ya! SEMANGAT2!

  4. Rabu, Desember 10, 2008 pukul 11:59 am

    Hehe, gtw gmn nih td awalnya bisa nyasar ke artikel ini. Kayanya udah hidayah dr Allah😛 Wah udah lama banget nih artikelnya, padahal kemarin kita kan barusan qurban rame2, dipake nggak jadinya kapaknya?🙂

  5. Kamis, Desember 11, 2008 pukul 3:53 pm

    O, tentu saja tidak… Yo, ngisin-ngisini rek, nek sing nduwe ora iso nggawe…😛

    Lagipula, keberangkatanku kan serba mendadak, bener2 ga kepikiran buat mbawa kapak… Nyiapinnya aja sejam sebelum deadline keberangkatan… Hehe….

  6. Andri Haryono
    Sabtu, Desember 13, 2008 pukul 7:01 am

    wah, bagus2 postingannya. aku jadi mikir sekarang. kan sering tuh orang suka nipu dengan kedok kayak gituan. gimana cara ngebedainnya ya??
    btw yu, link kamu udah dipasang tuh. gantian ya..
    ok2!!

  7. Sabtu, Desember 13, 2008 pukul 12:28 pm

    Hmm, caranya gimana yah… Tergantung sikon juga kan?

    O, iya… Maaf2… Maklum… akhir2 banyak deadline… Banyak link yang belum kupasang… Gamais aja belum, coba…😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: