Beranda > Dokumentasi Kehidupan > Aku Diantara Sahabatku dan Filsafat

Aku Diantara Sahabatku dan Filsafat

Bekasi, Akhir Juni 2008

Sudah lama aku tak berjalan berdua dengan mamaku. Hmmm, ini adalah kesempatan yang langka. Kami mampir ke toko bahan kimia. Kalau tidak salah ingat, namanya Harum Kimia. Mamaku membeli sedikit bahan kimia dan beberapa tumpuk kertas yang aneh yang dibungkus dengan kertas kasar. Itu tidak seperti untuk uji zat kimia. Sebagian pembungkusnya ada yang rusak sehingga isinya kelihatan. Sepertinya kesterilan tidak diperlukan.

“Ma, itu apa?”, tanyaku.

“Oh, ini untuk menimbang emas.”, jawab beliau. Aku tak bertanya lebih lanjut. Mungkin ini untuk alas piring penimbang emas yang mungil itu.

Mamaku adalah seorang dosen di sebuah politeknik di jakarta. Aku tak begitu heran dengan belanjaan mamaku yang aneh-aneh. Kadang-kadang beli banyak bedak berbagai merek sekaligus. Kadang-kadang juga alat kosmetika yang lain. Ini pasti untuk penelitian di laboratorium, begitu pikiranku saat itu.

Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah toko buku. Seperti biasa, kami berpisah. Hmmm, aku mau mengisi liburanku dengan hal-hal yang bermanfaat. Sepertinya buku PHP dan MySQL menarik untuk dibaca di saat-saat seperti ini. Lagipula, mungkin suatu saat aku akan membutuhkannya.

Aku menemukannya. Wah, ada banyak pilihan. Tapi, sepertinya kebanyakan masih terlalu mudah. Ah nanti saja milihnya. Aku mau jalan-jalan dulu.

Kemudian, pandangan mataku tertarik ke sebuah rak di sudut yang dipotong oleh jalan. Di atas rak itu, terpampang sebuah papan kecil bertuliskan “FILSAFAT”. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Filsafat. Filsafat. Kata-kata itu menggema di pikiranku, seperti sebuah kata-kata akrab yang ingin kusentuh. Namun, aku mengurung niatku itu.

Di sebelah kirinya ada rak lain yang mendempet. “BUDHA”, begitu tertulis di papannya. Seketika pikiranku langsung menuju ke seseorang, seorang kawan.

Kawanku, tepatnya sahabatku, yang seorang muslim, itu sedang mengalami perubahan yang besar. Sangat besar. Aku hanya tahu sedikit tentang apa yang sebenarnya terjadi. Satu-satunya yang banyak mengetahui hanyalah teman dekatnya di sekolah SMA-nya dulu.

Dia kini mempelajari filsafat. Tepatnya, mulai kembali mempelajari filsafat. “Saya sangat menghargai orang yang mau mempelajari semuanya mulai dari nol.”. Begitu kurang lebih kata-katanya. Benar-benar dari nol. Bahkan dia memulainya dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Kemudian mempertanyakan perlukah beragama? Kemudian, ah, dia tampak benar-benar mempelajari semua agama, untuk kemudian dianutnya. Saat ini, dia sedang tertarik mempelajari agama budha.

Sahabat, aku tak ingin banyak berdebat denganmu. Selama aku banyak berdebat denganmu, selama itu pula hatiku merasa sakit. Perihnya itu, dapatkah kamu rasakan? Apakah kamu tahu betapa aku mengkhawatirkanmu? Sikapku selama ini hanya untuk menunjukkan hal itu. Aku tahu, kamu pasti mengira aku terlalu memproteksimu. Siapa aku. Aku bukan siapa-siapamu. Aku hanya seseorang yang mencintaimu.

“Afwan, atas sikapku selama ini.”, permintaanku di sela-sela pertemuanku dengannya. “Jika antum merasa ana terlalu memproteksi antum. Karena ana tahu bagaimana rasanya disorientasi (seperti ini). Ana juga dulu pernah mempertanyakan apa yang sedang antum pertanyakan. Rasanya menderita. Ana berhenti di tengah-tengah (tak sampai mempertanyakan dan mencari jawaban dengan sempurna sampai seakar-akarnya). Ana tak meneruskannya. Ana sudah merasa puas dengan pencarian ana.”

“Mungkin untuk saat ini, inilah yang terbaik untukku.”, begitu kira-kira beliau menjawabnya. Aku sedih. Aku hanya berharap, kamu memiliki akhir yang sama denganku. Aku ingin memeluk Islam dengan kaffah. Inilah hasil akhir, yang terus kuperjuangkan hingga kini. Tapi, siapa yang dapat menjaminnya

Namun, setelah melihat kondisimu itu, aku hanya berharap: kamu bahagia, itupun sudah cukup!

Sahabat, ketika kita pernah berdebat hingga larut malam, tahukah engkau tentang kegelisahanku. Apalagi kata-katamu, menurutku, sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim.

Sahabat, aku tahu kamu butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu. Maafkan aku. Aku sama sekali tak berguna. Aku tak bisa menjawabnya dengan jawaban yang memuaskanmu.

Sahabat, aku tak mengharapkanmu kembali seperti dulu. Kembali seperti dirimu yang menjadi tempatku bertanya, tempatku bercerita, tempatku mengeluhkan permasalahanku. Ingatkah kamu ketika kamu mengujiku dengan suatu pertanyaan yang terdapat pada Ushuluts Tsalatsah? Kamu menjawabnya dengan penjelasan yang membuatku kagum dengan menukil sebuah ayat (Q.S. Muhammad ayat 19). Lalu aku membacanya, dan memintamu mengartikan kembali apa arti

واستغفِرْ لذنبك

yang terdapat pada ayat tersebut.

Dan juga, ingatkah kamu ketika kita pertama kali berjumpa? Kamulah yang mendakwahiku. Dan juga, ingatkah kamu ketika aku bertanya kepadamu, “Mengapa sikap mereka terlalu keras?” Kamulah yang menjawabnya. Dengan jawaban yang terus menggema di telingaku hingga kini…

Aku tak lagi menginginkannya. Aku hanya ingin kamu tetap dalam agamamu, sholat tepat waktu, dan tentu saja yang paling penting menurutku saat ini: bahagia! Cuma itu. Aku tak peduli apakah akulah orang yang akan membahagiakanmu atau tidak. Mungkin orang lain. Aku tak peduli. Aku juga tak peduli apakah aku akan diejek orang atau tidak. Aku juga tidak peduli apakah kamu akan mengakuiku atau tidak. Aku tak peduli semua itu! Yang jelas, aku akan menyesal seumur hidup jika hal yang buruk menimpamu. Aku akan menyelamatkanmu… sebisaku… Aku cuma ingin membahagiakanmu. Mungkin inilah keinginan terbesarku di dunia ini, dalam waktu dekat ini.

Kemudian, aku pergi dari deretan buku-buku itu. Aku melanjutkan penelusuranku di antara rak-rak buku yang lain. Aku jadi tertarik untuk mengunjungi buku-buku Islam. Siapa tahu ada buku yang sangat bagus. Namun, pikiranku masih terus mengembara.

Tunggulah sampai kondisiku pulih. Aku akan memberikan jawaban yang kamu butuhkan. Aku akan kembali mempelajari filsafat, karena aku tahu itulah yang kamu butuhkan. Tapi, itu setelah kondisiku mencapai apa yang aku inginkan.

Aku memang menerapkan standar yang cukup keras bagi diriku. Apalagi setelah futur yang berkepanjangan. Aku tak boleh futur lagi karena membebani diriku di luar kemampuanku. Aku akan membaca buku-buku filsafat milikmu setelah aku berhasil membaca qur’an 1 juz per hari dan tidak memandang seorang wanita pun (aku membuat definisi memandang sebagai melihat yang lebih dari 3 kali denyut jantungku atau sekitar 2 detik) selama 15 hari tanpa jeda. Aku paling payah dalam hal itu. Tapi tentu saja 15 hari itu harus masa-masa kuliah atau masa-masa sibuk, karena masa-masa seperti itulah yang paling berat.

Tapi, maafkan aku. Aku benar-benar payah. Aku sudah 1 bulan mencobanya. Tapi aku masih gagal. Bahkan kondisiku malah semakin buruk…

Bahkan, berbagai masalah telah membuatku limbung. Dan kini aku malah mengalami keragu-raguan… Ingatkah kamu ketika aku sedang bingung, apa yang aku lakukan? Aku selalu main ke tempatmu. Lalu aku menginap di sana. Dan seterusnya, kita bercanda bersama teman-teman kita yang kini kamu tinggalkan…

Kawan, aku melihatmu tertawa bersama teman-temanmu yang baru. Tapi, kamu tak pintar berbohong. Sorot matamu itu menunjukkan perasaanmu yang masih kesepian. Sangat jelas. Aku ingin mendekat, tapi apa gunanya aku…

Kawan, bukankah kita sama-sama kesepian? Kita punya penderitaan yang hampir sama. Kita juga punya sudut perasaan yang mirip. Aku ingat, warna blogmu itu, sama persis dengan pilihan pertamaku. Aku ingat, bagaimana caramu tidur. Kamu selalu meletakkan kedua tanganmu di atas dadamu. Aku menirunya. Aku merasa nyaman dengannya.

Aku juga ingat bagaimana ketika kamu bingung. Kamu malah tertawa. Aku ingat bagaimana caramu menceramahiku. Kamu menceramahiku dengan nada yang … berwibawa … Apakah kamu tahu? Aku benar-benar mengagumimu diantara semua orang yang pernah kujumpai.

Tiba-tiba mamaku datang. Sejak kapan?

“Sebentar, wawan belum ngambil buku ma… Itu ada di sana. Tinggal milih dan ambil. Ada banyak (pilihan) soalnya.”

Aku bergegas mencari dimana kutemukan buku-buku tadi. Sambil berjalan, aku melirik kembali deretan buku-buku filsafat itu, dengan dada yang terasa sesak dan terhimpit.

  1. ghe2
    Jumat, Juli 18, 2008 pukul 4:20 pm

    Asw..numpang comment.
    Berhubung gw juga ngambil agama budha untuk kuliah smester kemarin.

    Ini cuma pendapat subjektif aja ya :
    Awalnya banyak yang nentang pas gw ngambil keputusan ini.
    Tapi keluarga justru ngedukung..
    Karena alesannya semata2 ga ada hubungannya dg nilai A.
    Sakit hati banget ketika banyak yang bilang “kejar paket A ya?”
    Duh, apa sih yg mereka tau sampe bisa ngomong begitu?
    Gw cuma mau menuntut ilmu, apa salah?

    Kalo boleh tau, sebenernya apa sih yang bikin kamu nentang sang sahabat?
    Karena “pindah2” agama?

    (btw, template blognya sama euy, hhehe😛 )

  2. Minggu, Juli 20, 2008 pukul 6:46 am

    buka blogny pake hape ni cz masi tkapar.rspon smbil batuk2..
    keimanan itu sswtu yg sgt abstrak.gmn bs pcaya bhw Allah, malaikat, surga, neraka, &smw yg ghaib itu ad?tp Allah mmbrikn hidayah kpd syp yg dkhndakiNya.
    doakn &jgn jauhi dy dg pmusuhn.krn kbnarn itu satu,klo dy emang bner2 nyari,dy psti kmbali iA

  3. Firman
    Kamis, Agustus 7, 2008 pukul 1:24 pm

    Ghe2, you comment atau curhat? Sahabatnya tidak pindah2 agama, tetapi mengapa ia meragukan kembali agamanya padahal ia belum menemukan ajaran yang lebih benar?

    Wahyu, mempelajari filsafat adalah sesuatu yang berbahaya. Ada kaidahnya agar tidak terjebak ke dalam keragu-raguan yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Pengalamanku, risiko mempelajari filsafat adalah munculnya keragu-raguan. Jika terpaksa mempelajarinya, perkuat iman kita! perdalam ilmu kita! agar kita tidak terlarut dalam keragu-raguan itu. Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberikan ni’mat Iman dan Islam kepada kita! Apakah kita akan mengingkari ni’mat itu? Na’udzubillahi min dzalik.
    Untuk standar yang kau terapkan, periksalah apakah Islam memang mengajarkan itu! Atau standar itu sebenarnya kau buat sendiri? Akibatnya kau mengatakan “Mngapa qta tak boleh mmandang akhowat shingga qta tak bsa bgaul dkat dgn mereka?” Padahal aku mengakui bahwa aturan menjaga pandangan adalah aturan yang kubutuhkan untuk menjaga diriku.
    Menurutku, buku-buku filsafat milik sahabatmu (sahabatku juga sih) sebaiknya tidak kaubaca. Buku itu akan menambah keraguan yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan. Kalau mau mempelajari filsafat, pelajarilah filsafat ISLAM! Jangan filsafat sekuler! Membaca buku filsafat tidak seperti membaca buku yang lain, buku itu bisa mengeset ulang pikiranmu walaupun kamu tidak menginginkannya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: