Beranda > Dokumentasi Kehidupan, Puisi > Memang Sebuah Kata yang Tepat

Memang Sebuah Kata yang Tepat

Bandung, 13 Juli 2008

Aku sedang melihat-lihat isi kompie-ku… Tiba-tiba saja aku tertarik dengan sebuah folder yang dulu ku-copy dari seorang temanku. Lalu aku membaca beberapa artikel panjang di dalamnya. Hmmm, bagus juga. Dan memang sangat menggelitik [1]. Lalu kubaca secara acak lagi beberapa file. Ada beberapa puisi. Ada puisi cinta. Ada juga puisi tentang suatu konflik batin. Benar-benar milik seseorang.

Kemudian, ada sebuah puisi, yang menarik, dan menggugah…

Beri aku waktu,
agar aku dapat mengerti
bahwa hidup adalah suatu anugerah
yang layak diperjuangkan

Beri aku waktu,
agar aku dapat menyadari
bahwa perjuangan.. menuntut keikhlasan tumpahnya keringat, air mata dan
darah
tanpa keterpaksaan.. tanpa imbalan

Beri aku waktu,
agar aku dapat memahami
bahwa kegagalan.. pun sebenarnya adalah pembelajaran menuju lebih baik,
menyingkirkan keputusasaan.. menepikan kesia-siaan.

Beri aku waktu
agar aku dapat mengamini..
bahwa kesetian tanpa dalih..tanpa pamrih
adalah jiwa dari sebuah keberhasilan

Beri aku waktu
agar aku dapat membuktikan
bahwa pada akhirnya, cintalah yang akan jadi pemenang
dalam drama kehidupan

Dan sekali lagi
Beri, aku, waktu,
meski tertatih kucoba berdiri
pun perlahan namun pasti
Waktu akan memberikan.. aku… utuh, kepadamu !!

Begitulah kira-kira isinya (aku edit sementara beberapa karakter yang tampaknya rusak). Copy puisi ini bermula dari seorang teman sekamarku yang sedang tampak senang setelah lama pergi ke warnet. Dia bernama Dikdik Fazzarudin.

Jika ingatanku tidak keliru, kira-kira kami memiliki pembicaraan seperti ini (sengaja kupaksakan penyusunan kembali isi ingatanku dalam kata-kata yang mungkin diucapkan oleh dia dan aku, walau aku tak tahu apakah benar ataukah tidak apa yang kuingat. Yahhh, dengan kata lain dhaif nih cerita…).

“Yu, aku nemu situs yang keren banget.”, ungkapnya dengan cengar-cengir seperti biasa. Tampak dalam wajahnya sebuah rona kegembiraan.

“Apaan, dik?”

“Ada dehhh. Entar kukasih tahu…”

“Apa sih…”, aku sedang tidak tertarik dengan apapun nih…. Mana Dikdik lagi aneh.

Lalu dia cengar-cengir sendiri di depan kompienya. Kayak orang gila. Hehe peace V(“,)

Keren banget yu…”, ucapnya hampir teriak.

“Keren apa sih…?”, aku penasaran.

Lalu aku minta izin untuk membaca file-file tersebut, yang dikumpulkan dalam satu folder yang kalau tidak salah bernama “artikel maniz banget hahahaha”.

“Sok.. sok…”, jawabnya.

Lalu kubuka beberapa file. Kebetulan hampir semua yang kubuka adalah puisi cinta. Inikah yang bagus…? -_- Dia lagi kepikiran sama cinta lamanya apa yah? Lalu aku membuka artikel-artikel lain yang sangat panjang. Nanti sajalah kubacanya…

Lalu, dikdik bangkit, dan menunjukkan padaku puisi itu. Dia tampak sangat menyukainya. “Beri aku waktu”, begitulah judul puisi itu.

“Gue banget nih yu…”

“Benarkah?”, aku mencoba membacanya dengan baik-baik.

“Bagus juga sih puisinya. Tapi aku kok ga ngerti sama bait terakhirnya. Kesannya aneh. Lagipula, aku merasa ga ngerti maksudnya apa…”, kataku setelah selesai membacanya.

“Wah, yu… Justru itu yang paling keren…”, ucapnya agak kecewa.

Lalu dia membaca baitnya sampai “Waktu akan memberikan.. aku… utuh, kepadamu !!”

“Ya, pokoknya artinya memberikan aku utuh, yu… Utuh!”, jawabnya sambil mengepalkan tangannya ke bawah.

Dia tampak senang sekali sampai menjatuhkan dirinya di atas kasur. Aku menatapnya dengan heran sambil tertawa juga. Tampaknya benar-benar sesuai sama Dikdik. Aku juga sering senang jika menemukan puisi yang gue banget. Aku dulu juga seneng banget waktu mbaca puisi karya pak Sapardi Djoko Damono, karena ya, gue banget. Sampai-sampai aku terinspirasi untuk membuat puisi yang larik pertamanya mengambil dari kata-kata yang diungkapkan dalam puisi itu.

Lalu aku meminta izin meng-copy­-nya, untuk dibaca suatu saat. Yah, suatu saat.

Esoknya, aku sempat membacanya sedikit-sedikit. Bagus sih, tapi sayang ada puisi cintanya…. Mana mellow banget… Yah, terpaksa kuganti namanya dari (kalau ga salah) “artikel maniz banget hahahaha” menjadi “artikel_setengah_manis_setengah_rusak” (rada jahat sih…. Tapi temenku ga tahu ini. Hahaha. Peace!). Hal ini kulakukan supaya aku jarang membacanya. Soalnya aku malah jadinya inget terus lagi sama cinta lamaku. Walah… walah… Memang aku selalu memiliki sisi proteksi dari apapun yang menghalangi jalanku.

Sekarang, sudah setengah tahun aku meninggalkan Asrama Kidang Pananjung, dan aku tidak sekamar lagi dengan Dikdik. Aku membacanya dan mulai memahami apa maksud puisi “Beri aku waktu” itu. Huh, payah juga aku. Baru ngerti sekarang… Dia benar-benar menyukainya, sampai-sampai mencetaknya, kemudian memajangnya di tembok.

“Beri aku waktu” memang benar-benar kata yang cocok untukmu, dik. Dan aku di sini, akan terus menunggumu, hingga akhir kehidupanku, atau akhir kehidupanmu. Berapakah lama waktu yang kamu butuhkan? Berapapun itu, aku tak bisa memberikannya. Hanya waktu yang “bisa”.

==============
Catatan kaki
==============
[1]. Harus kuakui, bukan hanya menarik dan menggelitik. Tapi ini adalah pemikiran yang sangat luar biasa. Bagaimanapun juga, pemikiran ini – atau aku lebih suka menyebutnya sebagai ideologi – adalah sesuatu dari diriku sendiri yang paling banyak mengubah seluruh sisi hidupku. Aku tak pernah membaca buku yang membahas hal ini secara penuh. Hanya kata kuncinya: kebebasan, berani berfikir di luar “kebiasaan”, dan tidak terjebak oleh koridor yang dibuat oleh informasi yang terus menerus menumpuk di dalam memori hingga membentuk sebuah “permainan akal yang dimainkan secara tidak main-main” (begitulah istilah yang digunakan oleh seseorang). Hanya itu. Namun, kunci itu telah memberi jalan yang merubah segalanya… Pencarian selama sekitar 4 tahun sejak sekitar tahun 2001 akhirnya berbuah pada satu kata, Islam. Isyhadu bi anna muslimun!

  1. Firman
    Kamis, Juli 24, 2008 pukul 4:59 pm

    Kau ganti namanya, tapi kau tulis di sini (cuma ada garis di tengahnya). Ia bisa tahu kalau begini.

  2. Rabu, Juli 30, 2008 pukul 2:41 pm

    Maksudnya penggantian nama folder artikel itu?

    Hehe… Ga masalah juga ketahuan… Dikdik udah tahu ini karakterku… Kadang-kadang aku mengungkapkan kebencianku untuk sesuatu, tapi sebenarnya aku sangat menyukainya…

  3. Kamis, Februari 11, 2010 pukul 9:03 pm

    ambivert ya??

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: