Beranda > Flash Back > Surabaya, saat malam tiba

Surabaya, saat malam tiba

Aku berdua dengan mamaku tidur di bawah aling-aling yang melindungi kami dari nyamuk. Aling-aling itu seperti sebuah tenda dan berwarna putih. Aling-aling ini ditarik dan dibentangkan dengan 4 buah tali yang diikat di tembok samping rumahku. Bentuknya seperti jaring-jaring dengan lubang yang sangat kecil. Di bawahnya ada kasur, tempat tidur kami.

Aling-aling ini hanya memiliki satu pintu masuk. Kami harus menutupnya dari dalam dengan mengikat dua daun pintu itu. Aku sering melihat nyamuk-nyamuk berseliweran di atas aling-aling itu. Haha! Ga bisa masuk! Ga bisa masuk! Pikirku. Tapi kadang-kadang sebagian nyamuk berhasil masuk melalui lubang kecil di ujung aling-aling yang terikat dengan tali. Lubang itu mungkin terbentuk karena aling-aling ini sudah tua. Lubang itu memang terbentuk di daerah yang mendapat tarikan paling kuat.

Aku dan mama sering membunuh nyamuk-nyamuk pengganggu tersebut dengan tepukan tangan kami. Terkadang aku bertanya-tanya, kasihan juga nyamuknya dibunuhi begini. Tapi mengganggu sih. Nyamuk hewan yang jahat ya, begitu pikirku. Aku juga pernah melihat kartun di TV yang menggambarkan hewan ini jahat!

Tiba-tiba ada suara yang berasal dari tembok kamar kami. “tkek tkek tkek…”, yah beginilah kira-kira. Sulit melafalkan suaranya. Aku melayangkan pandanganku melalui aling-aling kamarku. Dari sela-sela aling-aling, aku melihat hewan melata yang merayap dan melahapi nyamuk-nyamuk di dekatnya. Tubuhnya berwarna putih kecoklatan. Lidahnya kalau dijulurkan sangat panjang. Dengan itulah dia meraih nyamuk-nyamuk dan memakannya.

Pertama-tama dengan tubuh rampingnya, dia mengendap-endap mendekati mangsanya dari belakang atau samping nyamuk. Kemudian setelah cukup dekat, dia dengan cepat langsung merayap dan menangkap nyamuk itu dengan lidahnya. Srut! Hampir tak bersuara. Wah Hebat! Terlebih lagi, aku takjub karena hewan itu bisa menempel di tembok.

Aku bertanya, “Ma, itu hewan apa?”, sambil menunjuk ke arah hewan itu. Mama mengarahkan kepalanya dan menelusuri tempat yang kutunjuk. Setelah menemukan obyek yang kumaksud, mama menjawabnya, “Itu cecak”. “Ma, kok cecak bisa nempel di tembok?”, tanyaku. Ibuku tampak berpikir sejenak, lalu menjawab dengan sederhana, “Soalnya di kakinya ada lemnya”. Lem? Lem apa yah? Enggak lengket tuh? Mungkin lemnya beda ya? Mama lalu melanjutkan, “Nanti kalau sudah besar, wawan akan paham.”. Aku manggut-manggut, tapi masih penasaran.

Kategori:Flash Back
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: