Beranda > Flash Back > Surabaya, kala hujan menerpa

Surabaya, kala hujan menerpa

Suatu hari, hujan turun dengan lebat disertai angin dan petir. Bruuuss, jegerrr, begitu aku mendengarnya. Air hujan dengan tajam menerpa dedauan di seberang rumahku. Daun-daun itu bergoyang dengan keras dan melambai-lambai ke arah kiriku, ke arah angin yang bertiup dengan kencang. Cahaya-cahaya dari kilat menyusup dan membuat terang sesaat ubin rumahku yang berwarna kecoklatan dan memantul dari genangan-genangan air di teras rumah.

Mamaku berkata bahwa malaikat lah yang menurunkan hujan ini. Tentu saja dengan izin Allah. Hmmm, aku membayangkan di atas hujan itu ada malaikat yang menurunkan dengan tangannya. Wah, pasti malaikat itu besar sekali, yah, hujan yang dibuatnya saja sebesar ini. Mamaku tersenyum seraya membenarkannya, malaikat memang sangat besar.

Aku memandang di kejauhan langit, ingin menantang hujan deras yang menusuk kulit. Aku merasa, jika aku bertahan di bawah hujan itu dan memandang ke atas, aku bisa melihat malaikat sedang menurunkannya. Tapi mama bilang malaikat tidak bisa dilihat manusia. Dan mama juga melarangku untuk hujan-hujan. Yah…. Sayang sekali. Kalau malaikat bisa dilihat, kan, seru. Aku memandang langit tinggi lagi dan hanya melihat sekumpulan awan putih bercampur coklat. Malaikat itu, jika bisa dilihat manusia, seperti apa yah?

Hujan reda. Aku memandangi jalan di depan rumahku yang basah karena hujan. Di sana sini terbentuk genangan air dan meluberi selokan air di depan rumahku. Wah, saatnya bermain keluar rumah. Tiba-tiba mbah putri melarangku. Aku menunjuk jalan dengan tatapan heran. “Tapi, kan sudah selesai hujan, mbah putri.”, begitulah kira-kira perkataanku. Mbahku tetap saja melarangku dengan alasan yang tak kumengerti. Mungkin karena menyadari ini, beliau lalu berkata, “lihat, di sana ada ular. Itu, di selokan di bawah pagar”. Mbah putri mengatakannya sambil menunjuk ke arah selokan yang sudah tidak dipakai di bawah pagar samping rumahku. “Mana? Tidak ada!”, mataku menyusuri area yang ditunjuk mbah putri-ku dan mencari-cari ular yang panjang. Tapi aku tak melihat apa-apa selain gundukan tanah. Lalu mbah putri meyakinkanku lagi sambil memeluk tubuhku dari belakang dan menunjuk lagi ke arah itu. Lagi-lagi aku cuma melihat gundukan tanah. Beliau terus meyakinkanku sehingga aku mengiyakannya karena sugesti. Aku cuma melihat corak coklat keputihan di antara gundukan tanah. Mungkin itu kepala ularnya yang sedang menengadah, pikirku.

Aku mau melihatnya lebih dekat, supaya lebih jelas. Tapi mbah putri-ku melarangnya dengan mengatakan bahwa hal itu berbahaya. Lalu, aku kembali masuk ke rumah.

Kategori:Flash Back
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: