Beranda > Flash Back > Surabaya, 1994

Surabaya, 1994

Surabaya, 1994

Namaku wahyu fahmi wisudawan. Biasanya aku dipanggil wawan. Aku sekarang berusia enggh, satu, dua, tiga, lima tahun! Aku tinggal di sini dan lahir di sini. Di sebuah daerah yang namanya lucu, dukuh kupang. Haha, aku jadi ingat dengan buah duku, buah kesukaanku. Buahnya kecil, lucu, dan enak. Kakek dari ibuku sering membawakannya setelah pulang dari kepergian beliau, yang katanya jauuuh sekali. Tidak tahu kemana. Katanya sih, itulah pekerjaan kakekku. Mamaku bilang pekerjaan mbah gio, begitu aku memanggil beliau (nama beliau adalah bagio), adalah sopir truk. Mamaku bilang, truk itu seperti mobil yang besaaar sekali. Wah, aku jadi ingin menaikinya. Sayang, mamaku melarangnya. Lalu aku bertanya-tanya mengapa aku tak pernah melihatnya. Mamaku cuma bilang sambil tersenyum bercampur dengan tawa, truk itu bukan punya mbah gio dan truk itu besaaar sekali dan tidak cukup ditaruh di halaman rumah. Wah besar sekali yah? Aku dan beberapa orang temanku saja sudah bisa bermain halilintar di halaman rumahku. Tapi sebesar itu masih tetap tidak muat!

“Berangkat! Assalamualaikum!”, aku berteriak ke dalam rumah ingin berangkat sekolah. Tak lama jawaban-jawaban dari keluargaku muncul hampir bersamaan, “Waalaikumsalam, ati-ati le!”. “Iya!”, aku menjawabnya sambil ancang-ancang untuk berlari.

Aku berlari menuju sekolah yang cuma berjarak 200 atau 300-an langkah kakiku yang masih kecil. Sebentar-sebentar aku berhenti, lalu berlari lagi sambil memegangi uang 100 rupiah yang menjadi uang sakuku.

Akhirnya, aku sampai di depan sekolahku, begitu aku menyebut taman kanak-kanak ini. Aku melihat tulisan yang terpampang di atas gedung sekolahku, TK Hasanah. Dari sela-sela pagar sekolah yang sedikit lebih tinggi dari tubuhku, aku melihat hiasan gantung dari kertas-kertas warna-warni yang dibentuk mirip angsa. Ibu guruku mengatakan bahwa itu bernama origami. Angsa-angsa itu bagus dan cantik. Angsa-angsa itu memiliki warna yang berbeda-beda dan dihubungkan dengan tali dan digantung dari ujung jendela. Angsa-angsa itu bisa dilihat dengan jelas dari luar. Tapi aman dari tangan-tangan usil dan terpaan angin dan hujan dari luar sekolah karena dilindungi dengan kaca jendela.

Aku mengira pastilah itu buatan kakak-kakak di atasku yang sebelumnya bersekolah disini. Aku juga ingin membuatnya. Tapi sepertinya sulit. Lama aku menunggu dan bersekolah di taman kanak-kanak ini. Menunggu ibu guru mengajarkan kami cara membuat burung dengan kertas.

Tapi aku agak kecewa. Ternyata kami cuma belajar sampai membuat kapal-kapalan dari kertas. Aku sempat bertanya dengan seseorang, barangkali guruku, ibuku, atau nenekku, aku lupa, kapan kami akan belajar membuat burung-burungan dari kertas. Beliau hanya menjawab bahwa nanti pasti belajar sendiri. Hhhhh, tapi aku ingin sekarang. Tapi, yah, apa boleh buat.

Sesaat setelah melewati pagar sekolah, aku membeli permen kesukaanku. Membeli permen ini hampir menjadi rutinitas bagiku sebelum masuk sekolah jika mama memberiku uang saku. Permen ini rasanya manis dan berwarna coklat. Tapi katanya bukan dari buah coklat. Aku membeli 2 buah dengan harga 50 rupiah. Di bungkus permen itu ada gambar sapi. Memangnya rasanya mirip susu sapi yah? Ah, tidak tahu. Yang penting enak.

Aku masuk ke kelasku yang ramai dengan ulah teman-temanku. Aku senang sekolah. Aku ingat, dulu aku ingin sekolah setelah melihat tetangga sebelahku yang sedikit lebih tua dariku sudah sekolah. Aku berkali-kali merengek meminta sekolah. Akhirnya ibuku mengizinkannya. Kata ibuku, aku sudah masuk TK sejak usia 2,5 tahun. Wah aku tidak tahu usiaku saat itu baru segitu.

Aku melirik sedikit ke samping kanan depanku. Di sana ada susan. Aku suka dengan anak itu. Anaknya manis dan pintar. Dia anak bu guru. Aku ingat, dia selalu mengacungkan tangannya ketika bu guru bertanya sesuatu. Kemudian aku melihat tepat di samping kiriku. Ada teman sepermainanku. Kami hampir selalu berdua ketika istirahat tiba. Kami suka ngobrol-ngobrol dan duduk-duduk di bawah pagar samping sekolahku.

Aku sering bertanya-tanya, kenapa ya, anak perempuan umumnya lebih rajin daripada anak laki-laki. Contohnya susan yang menurutku paling pintar di kelas. Aku merasa tak boleh kalah.

Ibu guru kemudian masuk, dan setelah itu teman-temanku duduk di bangkunya masing-masing dengan tenang. Ibu guru memberi pengumuman, bahwa besok adalah hari perpisahan. Ibu guru mengatakan bahwa kita sudah saatnya meninggalkan taman kanak-kanak dan sudah sepantasnya kita membuat sebuah kenang-kenangan. Ibu guru menyuruh kami untuk berpakaian yang bagus, bebas, dan unik karena kita akan foto-foto. Ibu guru berkata bahwa baju daerah juga boleh. Kelas tampaknya menjadi ramai. Tapi aku hanyut dengan pikiranku sendiri tentang baju seperti apa yang kupakai. Sepertinya aku tak punya baju yang seperti itu.

Aku bertanya dengan teman-temanku. Kami saling menanyakan baju apa yang akan dipakai besok. Aku agak samar mengingat-ingat ada yang mau pakai baju tentara, ada yang mau pakai baju polisi, dan ada juga mau pakai kemeja biasa. Aku apa ya?

Aku pulang dan bertanya pada mamaku. Mamaku tersenyum dan sepertinya juga mengusap kepalaku dan mengatakan bahwa ada sarung, baju koko, dan kopiah hitam yang bisa kupakai. Wah ternyata cuma begitu saja. Berarti peranku adalah seorang muslim. Atau ustadz?

Tiba-tiba aku merenungi kata-kata bu guru tentang perpisahan. Perpisahan? Berarti nanti tidak akan ketemu lagi dong dengan bu guru dan dengan teman-temanku? Ah tidak juga. Kan ada temanku yang tetangga dekat. Tiba-tiba aku ingat kalau ada temanku yang rumahnya jauh. Berarti aku tidak akan bertemu dengannya lagi? Tidak akan bertemu dengan susan yang pintar itu lagi? Tidak juga bertemu dengan teman-temanku yang lain?

Kategori:Flash Back
  1. Titatitadidinding
    Sabtu, Juli 12, 2008 pukul 9:55 pm

    Wahyu kok bisa c,masih inget wkt TK ky gmana?Msh 2,5taun lg.. Aku aja yg tk umur 5taun lupa…
    Oia permen susu yang plastik pelapisnya bisa dmakan bkn? Uh enak bgt tuh..suka beli dlu

  2. Wahyu Fahmy
    Sabtu, Juli 12, 2008 pukul 10:02 pm

    Ah ga juga ta… Cuma beberapa potong ini doang yang inget…

    Bukan. Seingatku benar2 plastik deh…

  3. Sabtu, Maret 28, 2009 pukul 12:49 am

    Selama ini lagu untuk anak seakan-akan tenggelam di blantika musik Indonesia. Sebetulnya keadaan ini tidak adil bagi anak-anak. Mereka seharusnya diberikan banyak lagu untuk menjadi pilihan sesuai jiwa mereka. Selama ini mereka terpengaruh oleh lagu-lagu orang dewasa seperti lagu yang berlirik cinta, patah hati dan selingkuh. Semua itu tidak baik bagi perkembangan jiwa anak-anak. Ini adalah tanggung jawab moral bersama seperti pemerintah, dunia pendidikan, industri musik dan masyarakat untuk bersatu menjadikan generasi bangsa yang jauh lebih baik dan bermoral.

    Bagi para guru Paud, TK dan SD bila berminat untuk menambah perbendaharaan lagu anak bisa menghubungi widya swara di jalan kalidami VIII / 25 Surabaya telp. 031-5926865 dan Hp. 081 3224 30013.
    Blogku : http://www.wijayakids01.blogspot.com

  4. titatitadidinding
    Kamis, Oktober 29, 2009 pukul 9:11 am

    hahaha bener2 plastik???
    ga mngkin lah

  5. Kamis, Oktober 29, 2009 pukul 12:20 pm

    Iya…. Plastik kok… Plastik kayak bungkus permen biasanya…

    Jangan-jangan emang biasa makan bungkus permen yah?😀

  6. Jumat, November 13, 2009 pukul 12:13 am

    Ternyata ada juga orang yang memiliki kesan terhadap masa TK-nya. Aku sendiri tidak memiliki kesan yang baik saat TK. Yang paling kuingat adalah aku pernah menangis dengan keras karena mbok-ku meninggalkanku (tidak mendampingiku) di kelas.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: