Beranda > Ilmu > Pendapat Syaikh Imam Nawawi di dalam Masalah Bid’ah

Pendapat Syaikh Imam Nawawi di dalam Masalah Bid’ah

Syaikh an-Nawawi Rahimahullah di dalam syarah-nya tentang masalah bid’ah membagi bid’ah menjadi lima bagian:

  1. Al-bid’ah al-wajibah (bid’ah yang wajib) dan contohnya adalah menyusun dalil-dalil…
  2. Bid’ah mandubah (sunnah) seperti menyusun kitab-kitab ilmu pengetahuan.
  3. Bid’ah mubahah seperti bervariasi di dalam hidangan makanan.
  4. Bid’ah muharamah.
  5. Bid’ah makruhah.

Diambil dari Terjemah Kitab البِدَعُ وَالمُحْدَثَاتُ وَمَا لاَ أَصْلَ لَهُ (Al-Bida’ wal Muhdatsat wama La Ashla Lahu) karya Hammud bin Abdullah al-Mathar, dengan judul Ensiklopedia Bid’ah penerbit Darul Haq, hal 96

====================

Catatan Perangkum

====================

Adapun bid’ah yang dimaksud di sini (sebagaimana terdapat pada syarah syaikh an-Nawawi Rahimahullah) adalah pengertian bid’ah secara bahasa. Definisi ini merangkum semua pengertian “sesuatu yang baru”. Oleh karena itu imam Nawawi memiliki kategori bid’ah yang wajib, sunnah, dan mubah (berbeda dengan bid’a di dalam masalah agama yang semuanya termasuk haram).

Jadi tidak heran jika diantara umat ini sebagian berpendapat tidak ada bid’ah hasanah, dan sebagiannya lagi menyatakan adanya bid’ah hasanah. Hal ini disebabkan karena sebagian kaum muslimin yang menafikan adanya bid’ah hasanah itu mengambil istilah bid’ah dari sisi agama yang diucapkan sendiri oleh lisan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat pada Musnad Ahmad (4/126), Abu Daud (4607), at-Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (42), dan Shahih al-Jami’ (2546).

Sementara sebagian kaum muslimin yang menyatakan adanya bid’ah hasanah itu merujuk pada pengertian bid’ah secara bahasa sebagaimana istilah ini digunakan sendiri oleh Umar bin al-Khattab Radhiyallahu anhu menurut riwayat yang shahih. Dan bid’ah yang dimaksud Umar Radhiyallahu anhu tidaklah sama dengan bid’ah yang dimaksud Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Sehingga apa yang disebut bid’ah oleh kalangan pertama itu disebut bid’ah muharramah oleh kalangan kedua, dan apa yang disebut “baru namun bukan bid’ah” oleh kalangan pertama disebut bid’ah wajibah atau bid’ah mandubahatau bid’ah mubahah (sekarang ini populer disebut bid’ah hasanah).

Oleh karena itu kedua hal ini tak perlu dipertentangkan dan hanya membutuhkan sedikit penjelasan yang baik. Menurut pendapatku, lebih utama untuk mengikuti Rasulullah dalam mendefinisikan bid’ah, dimana lisan beliau tidak pernah keliru. Adapun dalam tulisan-tulisanku selanjutnya, aku lebih memilih untuk mendefinisikan bid’ah sebagaimana definisi Rasulullah. Semoga shalawat dan salam senantiasa diberikan untuk beliau.

Wallahu a’lam.

Kategori:Ilmu
  1. acim
    Selasa, Desember 1, 2009 pukul 9:21 pm

    setidaknya kita mengerti dulu apa itu depinisi !? sebelum kita lebih jauh dlm melangkah, karna mengartikan dg secara hakikat jarang yang bisa.contoh kecil tahu kita apa itu yang namanya SUKA??????

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: