Beranda > Dokumentasi Kehidupan > Menjumputi Sisa Makanan

Menjumputi Sisa Makanan

Selasa, 20 Mei 2008: 12.59


Siang hari, perut lapar, diiringi lagu-lagu yang bernafas ga jelas di gelap nyawang, aku duduk sendiri menunggu hidangan makan siang. Ketika memesan, sebenarnya aku menyadari keberadaan seorang ibu yang meminta-minta di seberang meja. Namun, aku tak (berkeinginan untuk) melihat wajahnya. Bukan! Bukan aku tak peduli. Namun aku tak tega jika harus menatap wajah beliau, wajah yang aku tak punya kekuasaan apapun untuk memunculkan sesungging senyum di antara kerut-kerut yang menyelimutinya.

Aku mengambil PW (posisi wuenak) untuk belajar. Ya, esok akan diadakan UAS Strategi Algoritmik. UAS yang mulai membuat payah. Masih ditambah pula dengan tugas yang melimpah. Yah setidaknya tidak sepayah aku waktu menghadapi kesendirianku.

Aku mulai memfokuskan pikiranku. Dan membuang jauh-jauh pikiran-pikiran yang sejak tanggal 17 Mei terus menggangguku.[1] Bismillahir Rahmahir Rahim.

Baru beberapa lembar kubuka dan baca, ibu tersebut mendatangiku. Aku waktu itu sedang menguasai sebuah meja, yang di atasnya dipenuhi makanan-makanan sisa pengunjung sebelumnya.

Beliau membuka tangannya terhadapku. Tanda meminta sesuatu dariku. Namun aku enggan. Padahal aku masih memiliki recehan beberapa perak di kantong kecil di sisi kiri tasku. Namun, hati terasa malas untuk membalikkan badan yang sedang rapuh ini. Terlebih, tempat itu sempit dan setidaknya aku harus memutar tasku yang berat -berisi laptop yang cukup besar.

Aku -dengan angkuhnya- enggan sambil menundukkan kepala. Sebuah isyarat penolakan yang sebisa mungkin tak mengecewakan dan tak menyinggung perasaan beliau. Segera setelahnya, beliau menjumputi makanan-makanan sisa di depanku dengan tangannya yang kurang higienis. Kemudian langsung begitu saja ditaruh di karungnya, yang aku tak tahu isinya apa.

Aku terbelalak. Masyaa Allaah. Hati siapa yang tak pilu. Hati seorang pemabuk cinta maupun pemabuk narkoba sekalipun -aku yakin- akan terenyuh melihatnya. Dan segera sesaat melupakan cinta terhadap apa yang dicintainya.

Dalam benakku, beliau sudah tak mempedulikan lagi perkataan-perkataan orang, juga tak peduli lagi bahwa aku ini sedang ada di hadapannya, yang penting perut kenyang. Segera aku menutup bukuku -atau setidaknya sudah tak lagi membacanya- dan membalik tasku lalu melakukan apa yang tadi aku enggan melakukannya. Tanpa ragu.

Sambil menjumputi sisa makanan tersebut, beliau banyak berkata. Entah bahasa apa. Barangkali bahasa sunda. Aku tak bisa memahaminya. Terlebih lagi suara beliau sangat lirih. Yang kupahami dan kuingat sampai tulisan ini dibuat adalah kata “sayang” atau semacamnya. Barangkali maksud beliau “sayang kalau makanannya dibuang sia-sia.” Setelah tulisan ini ditulis, aku membayangkan, barangkali nasi yang diambil tadi akan digunakan untuk membuat nasi aking.

Wahai pemerintah, lihatlah rakyatmu!

Menangislah karena amanahmu.

Menangislah karena kelalaianmu.

Apakah engkau membiarkan kami berprasangka buruk kepadamu?

Lalu ubah negeri ini sebagaimana yang telah menjadi amanah klasik di dalam pembukaan UUD ’45: mensejahterakan kehidupan bangsa!

Dari orang yang tak tahu apa-apa.

Abu Hanif Wahyu Fahmy Wisudawan bin Wahyudin Supriyadi al Bakasiy

==============

Catatan kaki

==============

[1]. Mungkin suatu saat aku bisa bercerita tentang saat itu ^^

Lihat artikel terkait di Jangan Memubadzirkan Makanan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: