Beranda > Opini > Jangan Memubadzirkan Makanan

Jangan Memubadzirkan Makanan

Bodoh sekali orang yang suka membuang makanan. Dan lebih bodoh lagi orang yang kikir dalam beramal. Semoga Allah memberi kita semua petunjuk. Aku sejak kecil diajarkan untuk selalu menghabiskan makanan. Mungkin yang pertama kali mengucapkannya adalah nenekku sewaktu kami masih di Surabaya, semoga Allah menjadikan beliau penghuni surga, seseorang yang telah berhijab di zaman-zaman susah dan mengajariku banyak hal. Aku ingat, betapa kerasnya beliau ketika aku tak menghabiskan makananku. Padahal waktu itu mungkin aku masih kelas 1 SD. Masih berusia 5 tahun. Atau mungkin lebih muda lagi.

Waktu itu aku bertanya kenapa tidak menghabiskan nasi itu tidak boleh. Beliau hanya menjawabnya dengan perkataan kalau nasi itu tidak dihabiskan, nasi itu menangis (seingatku beliau memang berkata tentang nasi). Beliau menjawabnya sambil meyakinkanku dan menunjukkan nasi di depan wajahku, lihat nasinya menangis.[1] Aku sempat berfikir, apakah nasi itu bisa mikir atau mungkin punya roh? Malah kasihan dong dimakan. Tapi kalau ga dimakan, kitanya yang lapar. Hehe. Mungkin nasi memang ditakdirkan Allah untuk dimakan. Karena itu nasi akan menangis jika dibuang. Begitu pikiran kanak-kanakku.

Ayahku juga demikian, dan begitu juga dengan ibuku. Barangkali ibuku lah yang memberiku alasan yang paling memuaskan akal wawan[2] kecil saat itu dengan perkataan, “Nasi itu berasal dari padi. Untuk menghasilkan padi itu berat, le. Petani yang membuatnya harus susah payah menanamnya dan menyemainya, dan petani bisa marah kalau kita buang-buang nasi.”

Yah, itu cuma jawaban untuk diriku yang masih kecil, yang saat itu tak tahu sulitnya mencari sesuap nasi. Setelah dewasa, rasanya hati sangat senang jika membantu orang. Rasanya sangat senang jika kita selalu menghabiskan makanan.

Menyisakan makanan merupakan perbuatan yang mubadzir. Dan seolah-olah kita sama sekali menutup mata dari orang-orang yang dengan susah payah memperoleh sesuap nasi. Dan bahkan, akhirnya tak mendapatkan sedikitpun barang sesuap, hingga akhirnya terpaksa menyantap nasi aking. Nasi yang sampai sekarang aku ingin memakannya dan merasakan apa yang selama ini belum pernah kurasakan.

Masih mau menyisakan makanan?

==============

Catatan Kaki:

==============

[1]. Aku yakin percakapan kami pasti menggunakan bahasa jawa. Hanya saja aku tak bisa lagi mengingat diksi bahasa kami saat itu.

[2]. Panggilanku di keluarga.

Kategori:Opini
  1. Titatitadidinding
    Sabtu, Juli 12, 2008 pukul 9:47 pm

    Iya yu….
    Baru terasa saat kuliah di sosek pertanian… Saat praktikum nanem2… Terasa bgt susahnya nanem, pdhl hny di lahan ukuran sempit dan rame2 pula… Tp saat tanaman itu ada ddpn mata(brupa makanan siap santap)… Banyak bgt yg tbuang sia2…
    Pdhl ortu jg udah sering blg “ngambil nasi tu scukupnya aja… Harus habis.. Ntar nasinya nangis kalo ga dhabisin.. Kamu liat tuh, petani yang capek2 nanemnya, kmu tinggal enaknya aja makan”….
    Dan emang bener bgt…

  2. Wahyu Fahmy
    Sabtu, Juli 12, 2008 pukul 10:20 pm

    Wah rupanya sama yach… Alasannya nasinya nangis. Hehe.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: