Pengabdian Masyarakat


palestinaPalestina, lagi-lagi tanah ini menjadi saksi pertumpahan darah di antara umat manusia.
Lagi-lagi, ratusan nyawa tak berdosa menjadi korban.
Lagi-lagi, gedung-gedung digempur dan darah berceceran hanya karena keegoisan manusia. Rasanya sudah bosan dengan peperangan ini. Rasanya ingin sekali mengutuk zionisme, suatu paham yang menjadi pemicu ketidak adilan ini. Jujur saja, tidak ada pemahaman yang kubenci di dunia ini sebagaimana kebencianku terhadap zionisme.

Aku benci perang! Selamanya aku akan membenci peperangan! Sebisa mungkin, aku akan menghindari peperangan dan lebih memilih untuk menempuh jalan damai! Itu adalah nuraniku kala berbicara. Tapi, seandainya aku berada dalam posisi penduduk Palestina, apakah aku tetap tidak mau berperang, apakah aku tak mau menghancurkan tank-tank yang telah membunuh saudara-saudaraku, dan bahkan mungkin juga keluargaku? Rasanya tidak juga.

(lagi…)

Kawan, pernahkah kawan merenungi arti kehidupan? Mengapa kita hidup? Mengapa setelah menjalani kehidupan ini, kita akan mati, kemudian tiada; menjadi debu yang akan terbang terbawa angin, tersapu hujan dan badai…

Dimana kita setelahnya? Bagaimana kita disana? Apakah Tuhan hanya menciptakan kita lalu mematikan kita begitu saja? Dimanakah peran kita?

Kawan, pernahkah melihat saudara-saudara kita yang kelaparan? Kita semua pernah lapar dan kelaparan. Tapi itu tak seberapa. Karena toh, dalam benak kita, kita pasti akan makan lagi. Tapi bagaimana dengan mereka? Dalam benak mereka, makan hari ini pun sudah syukur. Tak tahu apakah esok masih bisa mencicipi makanan lagi. Tak punya apa-apa yang bisa menambal sedikit saja rasa lapar yang melilit dan membuat pedih hati mereka.

Seorang Anak yang Memunguti Sisa Makanan

Seorang Anak yang Memunguti Sisa Makanan

(lagi…)