Beranda > Opini > Lagi, Definisi Kehidupan, Hakikat Kebenaran (bag 1)

Lagi, Definisi Kehidupan, Hakikat Kebenaran (bag 1)

Kala Matahari Tenggelam

Kehidupan di Kala Senja

Selama menjalani masa istirahat karena sakit demam berdarah, aku banyak merenung. Banyak sekali yang kurenungkan. Salah satunya tentang definisi kehidupan. Lagi-lagi aku memikirkannya. Mungkin pertanyaan seperti ini memang tak akan pernah habis dijawab.

Aku punya kebiasaan mendefinisikan kehidupan secara singkat. Tapi, sayangnya, masih parsial. Dulu bagiku hal itu tidak masalah. Maklum. Apa saja yang bisa dipikirkan anak SMP-SMA? Mungkin sudut pandangku waktu itu masih satu. Saat itu bagiku, yang penting diriku sendiri puas dengan jawaban versiku sendiri. Selain itu, definisi yang singkat membuatku mudah untuk mengingatnya untuk dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan.

Dulu, sepertinya sewaktu masih SMP, aku mendefinisikan kehidupan sebagai fatamorgana. Kemudian aku merasa ada yang kurang. Ya, memang ada! Walaupun fatamorgana, tapi kehidupan itu sebenarnya adalah sebuah anugerah yang patut untuk disyukuri, sekaligus ujian yang kita patut untuk berhati-hati. Ujian dari siapa? Tentu saja ujian dari Tuhan.

Sewaktu SMA, aku merasa definisiku kurang menyeluruh. Kehidupan memang fatamorgana, anugerah, sekaligus ujian. Tapi ada satu kewajiban dalam menjalani hidup: berjuang! Hidup adalah perjuangan! Lambat laun, aku sadar bahwa setiap perjuangan adalah proses. Karena hidup itu perjuangan, perjuangan adalah proses, maka hidup itu adalah proses. Dengan mudah aku menggabungnya: hidup adalah proses untuk berjuang. Apa yang diperjuangkan? Bagiku saat itu adalah untuk menjalani hidup itu sendiri, dengan tegar dan penuh semangat.

Tapi, lagi-lagi definisi itu sama sekali tak menjawab: apakah hidup hanya untuk menjalani hidup? Sesempit itukah kehidupan manusia? Lalu, apa tujuan kehidupan? Intuisiku mengatakan tidak. Pertanyaan seperti itu tentu saja membuatku pusing. Tapi aku tak menyerah. Saat itu aku beranggapan: tak mungkin ada pertanyaan yang tak bisa dijawab. Sama seperti soal matematika dan ilmu pasti lainnya, selalu hanya ada satu jawaban yang benar. Sebab kebenaran hanya ada satu. Itulah filosofi pribadiku selama duduk di bangku SMA.

Aku waktu itu hanya punya satu sudut pandang: diriku sendiri. Beruntung dakwah menyirami hatiku saat aku kelas 3 SMA, dan tentu saja, akal pikiranku. Bukannya menjadi mudah terdogma, aku malah semakin kritis. Waktu itu, semakin banyak pertanyaan yang kuanggap berhasil kujawab sendiri, terlepas dari benar atau tidaknya.

Menjalani kehidupan sebagai seorang muslim memudahkanku untuk menjawab “pikiran liar”-ku. Aku sangat senang dengan agamaku. Karena bagiku, tak ada pertanyaan yang tak boleh ditanyakan, selain satu hal: siapa yang menciptakan Allah. Karena memang tak ada jawabannya. Allah sendiri yang menyatakan hal ini melalui perantaraan rasul-Nya, Muhammad, memerintahkan supaya hamba-Nya beristighfar jika terlintas pertanyaan seperti ini. Hal itu masuk akal. Karena segala sesuatu butuh awal. Dan awal dari alam semesta adalah Allah (sebagai Tuhan). Allah sendiri tidak memiliki awal. Bagaimana mungkin sesuatu yang memiliki awal menciptakan sesuatu lainnya yang memiliki awal juga? Harus Keabadian-lah yang menciptakan itu semua. Dia-lah yang dinamakan Allah. Karena Allah sendiri adalah awal dan keabadian, maka tak ada yang mengawali dan mengakhiri-Nya. Karena Dia adalah awal, masuk akal kalau Dia yang akan mengakhiri segalanya. Walaupun jika logika ini terus dirunut, masih ada kemungkinan bukan Dia yang mengakhiri alam semesta. Tapi, aku seorang muslim. Aku taat dengan firman-Nya, bahwa segala sesuatu, sejak awal sampai akhir, telah ditetapkan-Nya di lauh mahfudz. Dia yang mengawali, dan Dia pula yang mengakhiri. Aku senang. Karena semua clue untuk menemukan jawaban di atas semuanya ada di ajaran Islam. (sebenarnya, kalau diteliti, akan banyak bugs atau katakanlah celah-celah yang ditemukan dalam proses menemukan kebenaran di atas. Tapi aku cukup malas untuk menjelaskan celahnya, apalagi menjawabnya di sini. Nanti jadi panjang.)

Tapi, bukan berarti, aku berhenti bertanya setelah menjawab. Bagiku, kegagalan terbesar seorang manusia yang berusaha mencari kebenaran adalah ragu atau malahan tidak mau mencari jawaban kembali atas pertanyaan yang sebelumnya pernah dijawab. Tapi aku membatasi jumlah pertanyaan yang kuajukan kepada diriku sendiri untuk pertanyaan yang sudah pernah “diajukan”. Mahkamah Konstitusi saja berhak untuk menolak suatu uji materi… (Lah, ga nyambung…) Sebab, dengan terlalu banyak bertanya, kita jadi tidak bergerak: untuk memberikan perubahan baik bagi dunia. Semua ada batasannya. Sudah saatnya bagiku untuk menjalani kehidupan berdasarkan definisiku sendiri, tanpa takut salah.

Atas alasan itulah, aku benar-benar berlelah-lelah dengan kehidupanku di kampus. Aku mengambil kegiatan sebanyak mungkin, untuk mencapai satu tujuan. Jauh lebih sibuk daripada ketika SMA. Wajar.

Jika diperhatikan baik-baik, pandanganku tentang kehidupan setelah kelas 3 SMA mulai banyak berubah menjadi relijius. Tepatnya, Islam banget. Tentu akhirnya, seiring bertambahnya ilmuku, aku menjadi semakin relijius dan memiliki semakin banyak sudut pandang. Kenapa bisa begitu? Panjang ceritanya. Singkatnya, tidak seperti sebelumnya. Bagiku, jawaban benar atas pertanyaan yang kuajukan di atas tidak hanya satu. Kebenaran itu bukan titik, tapi suatu ruang berdimensi tertentu. Selalu ada algoritma untuk menemukan ruang tersebut. Tapi algoritma itu tak mudah ditemukan.

Sementara realita itu tunggal, kebenaran sebagai sebuah idealisme itu tidak. Kebenaran sesuatu yang abstrak dan bersifat hakikat bisa dipandang sebagai sebuah bangunan yang tersusun dari banyak komponen. Kebenaran ini bisa dipandang sebagai sebuah objek yang memiliki bentuk dan dapat diamati. Manusia ibarat mata dengan suatu sudut pandang tertentu. Pencitraan apa yang didapat oleh mata terhadap objek tersebut? Mungkin hanya satu bentuk saja. Apakah pencitraan itu mampu menggambarkan keseluruhan objek kebenaran tersebut? Tentu tidak. Dibutuhkan sudut pandang lain. Dibutuhkan “mata lain”. Seperti teknologi GPRS yang butuh beberapa satelit (kalau tidak salah 4) untuk mendapatkan pencitraan secara utuh. Seperti itulah kira-kira “mata” manusia. Selalu ada keterbatasan. Karena itu, jangan sombong. Orang yang sombong adalah orang yang tak mau mendengarkan orang lain.

Singkatnya, selalu ada jawaban yang berbeda untuk masing-masing sudut pandang, Tapi, intinya adalah sebuah bentuk kebenaran.

Karena itu, aku salah besar dengan memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang semata. Kubus (yang berbetuk sederhana) pun dari satu sudut pandang akan tampak seperti segi enam. Tapi dari sudut pandang lain mungkin segi empat. Padahal kehidupan itu mungkin berdimensi banyak. Bahkan mungkin tak hingga. Bagaimana bisa kita melihat sesuatu yang kemungkinan besar berdimensi tak hingga hanya dengan satu sudut pandang saja?

Akibat dari aku memiliki banyak sudut pandang, orang mungkin akan beranggapan bahwa aku “tidak berwarna”, terlalu netral, dan tidak punya prinsip yang pasti. Terlalu ribet. Yah, tidak mengapa. Itu adalah konsekuensi dari bersikap bijaksana…. Hehe.. :P Narsis… (Bercanda kok) Segala sesuatu punya konsekuensi (dari mana hukum ini? Ini pendapat pribadi dari pengalaman pribadi). Walau masih cupu, tapi aku tak akan berhenti bercita-cita untuk bersikap bijak. =)

Oh, iya… Kembali ke topik sebelumnya tentang apa itu kehidupan? Jawaban selanjutnya akan dibahas di postingan selanjutnya….

  1. asrina
    Selasa, April 21, 2009 pukul 11:21 pm

    Yang awal kenapa mesti ALloh? bagaimana jika yang awal itu adalah alam itu sendiri? Alam yang berdiri sendiri?

  2. Jumat, Mei 22, 2009 pukul 9:49 pm

    Yuppiii…. ^^ Maaf baru dibales yah… Hmmm, maksudnya biar ga panjang-panjang artikelnya… Kalo dibahas juga, bisa jadi buku tuh…. =P

  3. Sabtu, Februari 20, 2010 pukul 10:20 am

    Coba hitung ada berapa kata “singkatnya” dalam tulisan ini! :D
    Salam kenal. Salam silaturrahim..

  4. Sabtu, Februari 27, 2010 pukul 3:07 am

    wew,, dah satu tahun terlantar

  5. Renz
    Rabu, April 21, 2010 pukul 6:32 pm

    hai,gw mo bagi2 pemikiran dikit..
    dulu gw jg sempet punya pemikiran yang sama,kira-kira siapa yang menciptakan Tuhan?bagaimana awal mula dari suatu keberadaan?Siapakah penciptanya?
    Setelah sekian lama mencari,gw jg masih lom nemukan jawabanya.
    Namun pemikiran gw berkata,apa mungkin karena gw menyadari bahwa gw adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan.Maka kemudian kita menanyakan hal yang sama juga tentang ekstistensi Tuhan.Karena kita punya pandangan dan kepercayaan bahwa semua itu ada karena “diciptakan” oleh sesuatu.
    Mungkin Tuhan dan alam semseta tidak diciptakan oleh siapa-siapa.
    Memang g masuk logika sama sekali.Tapi Tuhan dan segala kuasanya,apa bisa dilogikakan?
    Itu aja menurut gw,pendapat pribadi gw..dan buat kk,tulisannya udah mencerahkan gw yang udah membacanya.Lanjutkan!
    Thx ^^

  6. Senin, Oktober 18, 2010 pukul 12:09 pm

    Kalau liat Paragrap terakhir kayaknya sesuatu yg salah itu belum tentu salah, sesuatu yang benar lum tentu benar, tergantung sudut pandang kita memandangnya, seperti cerita nabi hijir dan nabi musa, {Padahal jelas2 nabi hijir membunuh, tapi itu benar di mata Allah) yah kyknya Allah lah yang maha benar, kyknya Tuhan adalah Zat yg egois yg memaksakan kehendaknya pada manusia

  7. octa
    Senin, Agustus 15, 2011 pukul 3:28 pm

    ehmmm Guest,,, sorry ya , Islam Itu tidak bisa di agan agan sendiri…..

    Kalau ingin tahu islam Bisa lihat saja dan kaji AL-QURAN dan AL – HADIST ,
    kenapa AL-QURAN DAN AL-HADIST. Nabi Muhammad SAW, BerSabda :
    Kamu sekalain berpegang Tidak akan rusak, walaupun hidup di jaman yang sudah rusak,
    dengan berpegang teguh 2 hal yang hak , yaitu Ayat yang Menghukumi (AL-QURAN)
    dan Sunnah yang di tegakkan (AL-HADIST). Insya alloh atas izin dari alloh , kamu sekalaian akan menjadi orang yang beriman kepada alloh ,. walaupun jauh dari jaman nabi SAW.

    Prakteknya tidak dengan membaca sendiri dari buku , Tetapi dari alquran langsung dengan berguru yang ahli, dan gurunya juga harus mempunyai guru yang benar benar berguru dan sohabat nabi dengan turun temurun, Maka Tidak akan ada amalan yang hukumnya Dhoif (menyimpang) karena ada bukti dari seorang guru tersebut, Itulah yang di manakan ISLAM Murni . tanpa ada pemikiran masing masing, tetapi bedasarkan berguruu dengan Guru yang shohi.

    Bukankah kita harus belajar dari yang ahlinya ….

    Mari kita berfikir sejenak ,,,, amalan kita apa sudah pas,,, Ilmu kita dari mana? dan siapakah guru kita ?

    Sukron katsiron

  8. Azmidian
    Minggu, Januari 29, 2012 pukul 5:50 am

    Menarik
    minimal..cukup mendukung pendapat ku ttg bpikir dr bnyk sudut pandang
    ^_^

  9. nik.ha
    Kamis, April 11, 2013 pukul 11:27 am

    hehem….. kebenaran itu bersifat relatif sesuai sikon… benar memang benar n salah memang salah tapi ada semacam pemakluman terhadap keduanya

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: