Beranda > Dokumentasi Kehidupan > Sakit Demam Berdarah di Minggu Pertama Kuliah

Sakit Demam Berdarah di Minggu Pertama Kuliah

Kabel Infus
Kabel Infus

Alhamdulillah… Akhirnya aku diberikan kesempatan untuk ngeblog kembali. Aku ga bisa ngeblog lamaaa sekali… Karena aku sakit demam berdarah. >_< Aku jadi ingin cerita di sini hari-hariku terkena demam berdarah.

3 Februari 2009

Ini adalah hari kuliah keduaku selama semester 6. Ketika bangun tidur, aku merasa badanku panas dan meriang. Kepalaku pusing dan perutku sangat mual dan ingin muntah. Tapi aku masih punya cukup kemampuan untuk bangun, sholat, mandi, kemudian kuliah. Mungkin ini cuma kecapaian karena semalam aku mengakses internet sampai jam satu malam. Ckck…

Sesampai di tempat kuliah, sakit di badanku semakin menjadi-jadi. Rasanya ingin cepat pulang. Tapi kuliah hari ini sampai jam 3 sore. Rasanya menderita sekali.

Sewaktu mampir sebentar di kamar mandi GKU Timur Lantai 4, badanku hampir ambruk dan kesadaranku hampir hilang. Tapi aku segera memulihkan kesadaranku karena menyadari kalau aku pingsan di sini, tak akan ada yang bisa menolongku. Lagi pula, aku tak mau pingsan… Sebisa mungkin, aku harus turun ke lantai bawah dulu.

Dengan langkah yang lunglai dan terseok-seok, akhirnya aku sampai di lantai bawah GKU Timur dan melanjutkan perjalanan ke parkir utara, tempat aku memarkir motorku. Sesekali aku duduk dan istirahat. Mataku mulai berkunang-kunang. Tubuhku semakin lemas dan ingin segera ambruk. Sewaktu aku duduk sebentar di kantin bengkok, temanku Habib Teknik Kimia 2006 menghampiriku. Beliau kemudian tahu kalau aku sedang sakit dan bersedia mengantarku ke Bumi Medika Ganesha dengan arah yang berlawanan (tadinya tujuanku kamar kosku sendiri)…. Tidak mengapa… Yang penting ada teman yang mengantar. Disana aku diberikan beberapa obat. Habib kemudian mengantarku untuk istirahat di sekre Majelis Ta’lim Salman. Alhadulillah, ini pertolongan yang lebih dari cukup.

Sehabis sholat ashar, aku langsung tidur dengan jaket Mata’ pinjaman. Adzan maghrib dan isya’ benar-benar kubabat. Aku baru terbangun kembali sekitar jam 8 atau 9 malam. Tapi badanku masih meriang. Obat dari BMG ternyata tidak manjur untukku. Dengan langkah yang berat, aku menelusuri tangga rumah kayu salman untuk pulang.

4 Februari 2009

Rasanya badanku semakin kacau. Aku tak bisa kuliah. Bahkan bergerak pun sulit. Aku mengadu kepada orang tua atas keadaanku. Apa boleh buat. Aku benar-benar terpaksa. Lagi pula Papa sedang ada di Majalengka. Kira-kira cuma 3 jam perjalanan dari Bandung.

Aku tergeletak lemas dan sama sekali tidak nafsu makan. Aku cuma makan sesuap dua suap roti. Aku tergeletak tak berdaya di kasur kosanku. Untung sorenya Papa datang dan merawatku dan membelikanku bubur dan obat tifus. Hal ini karena aku pernah dua kali kena gejala tipus.

5 Februari 2009

Kali ini aku muntah-muntah. Badanku masih panas dan lemas. Aku cuma bisa makan bubur dengan jumlah sangat sedikit.

6 Februari 2009

Panas tubuhku berangsur menurun. Tapi masih sangat panas. Kali ini aku ke BMG lagi untuk cek darah, sesuai dengan kesepakatanku dengan dokter sebelumnya. Sorenya, hasilnya sudah keluar. Jumlah trombositku cuma 71.000 per mikro Liter (nilai rujukan / normalnya 150.000 – 450.000) sementara jumlah leukositku cuma 1900 per mikro Liter (nilai rujukan 4800 – 10800). Sangat rendah. Aku disarankan merujuk ke Rumah Sakit Umum dan diberi obat-obatan dalam jumlah yang cukup banyak.. Sepertinya aku akan dirawat inap (orang-orang sering menyebutnya opname).

7 Februari 2009

Aku dibawa pulang ke Bekasi naik kereta eksekutif. Cukup nyaman untuk tidur. Tapi, rasanya mudah lelah. Staminaku benar-benar merosot walaupun awalnya rasanya masih cukup bugar. Hal ini mungkin karena psikologisku belum jatuh. Aku sampai di Bekasi sore hari.

Malamnya aku diantar ke Rumah Sakit. Aku dicek darah kembali. Hasilnya sangat mengejutkan. Jumlah trombositku merosot drastis menjadi 26.000. Aku langsung diopname malam itu juga. Malam itu juga aku diinfus dan diberi suntikan dalam jumlah cc terbesar seumur hidupku. Besar sekali sampai aku merasa ngeri membayangkan obat sebanyak itu akan disuntikkan ke pembuluh darahku. Setidaknya tidak terasa sakit karena langsung diinjeksi ke kabel infus..

8-11 Februari 2009

Kamar Tempat Aku Dirawat

Kamar Tempat Aku Dirawat

Aku dirawat inap. Ketika diinfus, rasanya badanku cukup bugar. Aku merasa sehat. Tapi rupanya tidak. Aku mudah lelah setelahnya. Waktu itu staminaku sangat rendah. Tapi, waktu itu aku malah menargetkan cuma diopname selama 3 hari saja. Artinya, dalam tiga hari jumlah trombositku sudah mencapai 100.000 lebih. Aku selalu menerapkan standar tinggi begitu. Hehe… Aku ingin mengukir sejarah: ada orang yang hanya diopname 3 hari karena demam berdarah. Biasanya 4-7 hari. Aku sangat optimis bisa. Sebenarnya tadinya lebih ga realistis lagi dengan target 2 hari (plus malam tanggal 7). Tapi aku sadar ada masa inkubasi yang harus kujalani. Targetku meleset sehari saja (akhirnya dengan opname selama 4 hari). Aku terlalu pede dengan kebugaranku. Rasanya trombositku naik. Ternyata malah turun ke 23.000 dan akhirnya sampai jumlah terendah (saat pengecekan darah) sebanyak 17.000 pada malam hari tanggal 8 Februari.

Padahal sudah minum jus jambu klutuk berbotol-botol sampai bosan (sebelumnya ngidam :P ), berbotol-botol angka’ (nama lainnya ketan china), dan minum air putih berbotol-botol sampai kencing melulu setiap beberapa jam sekali. Entah berapa botol yang kuminum. Rasanya, setiap 6 jam, 600 mL air mineral, 200 cc angka’, 300 mL jus jambu kuhabiskan semuanya. Alhamdulillah, jumlah leukositku sudah cukup stabil sejak hari kedua. Jumlahnya naik turun di nilai 5.000 dan 4 ribu koma.

Rasanya aku butuh dorongan untuk cepat sembuh. Aku ingin dijenguk. Hehe. Pagi tanggal 8 Februari aku SMS beberapa temanku… :P Memberitahukan bahwa aku sedang opname di RS Umum Karya Medika. Siangnya sudah ada yang datang… Duh, senangnya. :D Pertama, teman sepengajianku berbondong-bondong datang. Sebagian yang perempuan ga kukenal. Teman sebaya adikku soalnya. :P Mungkin waktu itu yang datang 8-10 orang. Aku lupa. Yang kuingat ada Koko, mas Hendi, Yatna, dan Nurul Karimah. Maaf, yang lainnya lupa. :P

Kemudian teman SMA-ku datang satu per satu. Padahal ada yang tak ku-sms. Mungkin tahu dari cerita saja. Pertama-tama, Euis Trisnawati, teman dekatku, datang terlebih dahulu. Kemudian ramai. Tri Setyawati, Desi Kurnianingsih, Divi Adriansyah, Eka Siti Barkah, sepertinya Effa dan Fenni juga datang, dan terakhir Intan Rahayu. Selebihnya sepertinya nitip salam seperti Rahmasari, Gigih, Dwi, Gita, Nurul Masrofah, dan lain-lain. Hmmm, banyak nama yang tak kuingat. Kalau diingat-ingat, sebagian besar cewek yah…. Itu karena memang teman SMA ku kebanyakan teman seorganisasi di Kelompok Ilmiah Remaja dan sebagian besar memang perempuan (yang laki-laki cuma 4 orang). Maaf bagi yang lupa disebutkan. :P

Grafik Jumlah Trombosit

Grafik Jumlah Trombosit

Bersamaan dengan itu, keluarga banyak yang datang menjenguk, termasuk Mama, Papa, kedua adikku: Khanifa dan Faiz, Om Ari, Tante Siti, Mita, dan Firdaus. Wuih, rame bener. Sampai-sampai sebagian yang menjenguk tak bisa masuk karena ruangan kamarku sudah penuh. Rumah Sakit ini memang tidak ada batasan penjenguk. Mungkin karena memang kondisiku masih cukup fit.

Esoknya, masih ada yang menjenguk: Iwang dan Faqih. Hehe… Rame. Senangnya… =)

Sepertinya, setelah itu, trombositku naik perlahan-lahan. Tapi mungkin aku salah ingat urut-urutan ceritanya. Rasanya hari-hari berlangsung sangat lama dan tentu saja aku tidak sempat mencatat apa-apa sebagai pengingat. Aku cuma ingat perubahan jumlah trombositku saja karena aku mencatatnya di facebook.

Untuk menaikkan jumlah trombositku, entah obat apa aja yang sudah masuk tubuhku. Mulai dari obat tablet, cairan infus, beberapa macam cairan yang disuntikkan di kabel dan botol infus (mulai dari yang rasanya segar sampai yang luar biasa sakit), dan obat alam seperti jus jambu dan angka’ yang pahit itu.

Akhirnya, trombositku naik menjadi 30.000, kemudian 70.000 dan akhirnya tanggal 11 Februari pagi hari jumlah trombositku sudah mencapai 118.000. Hore! Sudah boleh pulang. Sudah jenuh rasanya dengan kabel infus, suntikan, dan rasa lemas!

Mukaku yang Awut-awutan di Hari Terakhir Dirawat Inap

Mukaku yang Awut-awutan di Hari Terakhir Dirawat Inap

12-15 Februari 2009

Rupanya penderitaanku belum berakhir. Setelah 2 hari lemas dan dirawat Mimin, saudaraku, kali ini jari-jari tangan dan kakiku sakit. Mulanya rasanya seperti tersetrum dan kesemutan. Dan kuamati, rasa kesemutan itu muncul ketika terjadi peregangan dan penegangan otot-otot jari tangan dan kaki. Karena itu, sebisa mungkin aku membatasi gerakan tubuhku.

16 Februari 2009

Kondisiku dicek kembali oleh dokter. Walaupun tekanan darahku cuma 100/60, tapi kondisiku dinyatakan sudah cukup membaik. Setelahnya, aku cuma diberi vitamin dan obat maag. Wah…. Siangnya, aku langsung pulang ke Bandung walaupun harus naik taksi. Aku sudah kangen dengan kampus…. =)

Lama-kelamaan, rasa kesemutan di jari tangan dan kaki berubah menjadi rasa nyeri yang hebat. Saking hebatnya, kadang-kadang jari-jemariku tak bisa digerakkan karena menanggung rasa nyeri yang teramat sakit. Di sinilah psikologisku mulai jatuh. Tiba-tiba muncul rasa khawatir dari batinku bahwa aku akan lama sembuh. Bahkan muncul pikiran-pikiran yang merasa aku mungkin tidak akan sembuh. Padahal sudah sedikit lagi dan aku sudah tidak diopname. Entah bagaimana pikiran itu muncul, tapi mungkin wajar. Aku sudah sakit sejak tanggal 3. Berarti sudah hampir 2 minggu berlalu. Yang membuat psikisku jatuh (yang justru setiap kali aku ingin tidur) adalah tidak lancarnya aliran darah di jari-jemari tangan dan kaki sampai-sampai ketika memejamkan mata, aku merasa tubuhku menciut tapi menebal dan rapuh (seperti mau patah). Hal itulah yang membuatku mudah putus asa dan aku sempat menangis karena aku tidak mampu beraktivitas apa-apa. Rasanya lebih sakit daripada ketika opname. Ketidak mampuan beraktivitasku itu semakin menyakitkanku. Aku merasa lumpuh sesaat karena syarafku kacau dan otot-ototku sulit untuk digerakkan.

Beruntung aku nekat kuliah hari selasa, tanggal 17, walau sedikit kepayahan. Aku jadi ngobrol dengan teman-teman yang sebelumnya pernah diinfus. Rupanya memang hal yang kualami wajar. Aku berpikir terlalu jauh. Ari Wardana malah kulitnya sempat membiru sejak kabel infusnya dicabut. Tante Ai yang seorang perawat juga bercerita, penyakit yang paling membuat menderita memang demam berdarah dan malaria. Reaksi tubuh pasien terhadap obat-obatan dan infus pun ternyata macam-macam. Cerita seperti itu membuatku semakin merasa “normal”. Ya, aku tidak lumpuh! Karena banyak yang mengalami sepertiku dan mampu beraktivitas normal setelahnya. Aku yakin akan segera sembuh beberapa hari lagi. =)

Untuk mengatasi ketakutanku, aku selalu melihat ke tubuhku yang masih utuh dan tidak mau merasakan tubuhku sambil memejamkan mata. Hal itu membuatku merasa nyaman. Aku juga tak mau lagi meletakkan kedua tanganku di atas dadaku hingga terasa kalau denyut jantungku tak beraturan. Hal itu malah membuatku takut secara berlebihan.

Untuk mengatasi nyeri, aku sedikit memberi sari jahe di jari-jemari tangan dan kakiku. Alhamdulillah, walaupun rasa sakitnya masih ada sampai sekarang tapi sudah berangsur berkurang.

Ditulis pada tanggal 19 Februari 2009

  1. Jumat, Februari 20, 2009 pukul 6:32 pm | #1

    Waduh,itu bukan kabel infus kali, tapi selang infus:)

  2. Sabtu, Februari 21, 2009 pukul 7:46 am | #2

    Oiya yah… Kok aku nulisnya kabel infus yah… Hehe, anggap diralat deh. [banyak ditulis soalnya]

  3. Jumat, Oktober 23, 2009 pukul 12:24 am | #3

    Sekain jambu biji, ada juga yang minum rebusan angkak atau daun ubi :) Saya sendiri belum tahu apa benar ada khasiatnya ya?

  1. Belum ada trackback.