Beranda > Dokumentasi Kehidupan, Penulis > Aminah, Pertemuan Ke-Empat dan Lima

Aminah, Pertemuan Ke-Empat dan Lima

Pertemuan ke-4

Bekasi-Cikarang, 14 Desember 2008

Akhirnya, setelah beberapa bulan lamanya, aku pulang ke Bekasi. Sengaja kusempatkan waktu untuk mengunjungi Mimin di Cikarang. Keluargaku pun mengizinkan dan malah beramai-ramai mengantarku ke Cikarang naik mobil proyek papa.

Di dalam mobil, hatiku berdetak lebih kencang daripada biasanya. Ah, akhirnya, aku bertemu Mimin. Bagaimana keadaannya ya? Apa yang sedang dikerjakannya sekarang? Apakah dia juga merindukanku… Dan lagi, melalui telepon, sebenarnya aku sudah berjanji untuk mengunjunginya sabtu kemarin, tanggal 13 Desember. Namun, aku kemalaman sampai Bekasi. Waktu itu aku lupa kalau ada demo program Sistem Informasi jam 11.30 kalau tidak salah…. Mana aku belum siap apa-apa buat pulang… Alhasil, aku baru berangkat sore hari jam 3-an… Dan sampai bekasi pada malam hari. Maafkan aku Min.

Akhirnya kami sampai. Pondok pesantren ini sederhana. Dari luar, tampak seperti sekumpulan rumah-rumah biasa. Mungkin yang membedakannya dengan rumah-rumah lain adalah aktivitas pengajian rutin di dalamnya.

Kami berpapasan dengan beberapa orang wanita yang masih mengenakan mukenah. Kami kemudian menyapa mereka. Aku heran. Ada seorang gadis di sana yang terus melihat ke arahku. Aku membuang pandanganku. Setelah itu, aku mencoba melihat ke arahnya kembali, ternyata dia masih melirikku. Entah apa yang dipikirkannya.

Daripada memikirkan itu, ada hal lain yang membuatku terkejut. Ternyata Mimin menangis karena aku tidak jadi datang kemarin setelah ditunggu lama. Aku jadi merasa semakin bersalah.

Tok, tok… Mamaku mengetok pintu salah satu rumah di situ. Lalu, wajah yang tak asing melongok keluar dan terkejut melihat Mama. Itu Mimin, pikirku. Spontan Mimin agak berteriak dan mencium pipi kanan dan kiri Mamaku dengan rona wajah yang sangat bahagia. Mamaku lalu mambalasnya dengan tidak hanya mencium pipi kanan dan kiri Mimin, tapi juga keningnya.

Lalu, aku, Mimin, dan kedua adekku pergi jalan-jalan melewati sawah, kebun, dan ladang. Sayangnya, ada empangnya. :P Untung ga bau, pikirku.

Kami lalu ngobrol-ngobrol tentang apapun. Hanya saja, aku yang paling diam saat itu. Pembicaraan kami melebar, mulai dari menanyakan kabar sampai cerita-cerita ga jelas yang ngalor ngidul. Di sela-sela pembicaraan kami, aku meraih tangan Mimin. Aku menggenggam erat jari-jari tangannya. Lalu, Mimin membalasnya dengan menggenggam jari-jariku lebih erat lagi. Aku hanya ingin mengungkapkan, aku sayang kamu dan jangan merasa kesepian… Biasanya Mimin selalu menangkap maksudku dengan baik walaupun aku tak bicara sepatah katapun. Karena itu kami merasa cocok.

Kemudian, kurangkul adik-adikku dengan tanganku yang lain. Biasanya Faiz selalu suka kupeluk. Sementara Khanifa, adek perempuanku, cenderung tidak merespon apa-apa sewaktu aku memeluk pundaknya.

“Min, maaf ya,” ucapku.

“Aku ga jadi ke sini kemarin… Aku lupa ada demo program di kampus,” lanjutku.

Mimin sejenak terdiam. Lalu berkata, “Ga apa apa,” jawabnya sambil tersenyum namun tidak mau menatap wajahku.

“Aku dah SMS ke temanmu di sini kok. Nyampe ga?”

“Iya? Ga ada yang ngasih tahu,” mata Mimin terbelalak dan wajahnya menghadap ke wajahku lalu kemudian menghadap ke depan kembali.

Mungkin ga tega ngasih tahu ke Mimin, atau apa ya? Gumamku dalam hati.

Waktu terasa cepat berlalu dan menunjukkan sekitar pukul 13.30 WIB. Mimin harus segera kembali ke pondok karena akan ada pengajian jam 2 siang. Kami pun segera kembali.

Sesampainya di pondok, kami minum-minum sebentar dan makan gorengan. Nyam, nyam… Gorengan di sini enak dan besar-besar, pikirku.

“Yang penting bulan depan dateng lagi, ya, mas,” pinta Mimin di sela-sela pembicaraan kami. Aku mengangguk. Sebenarnya aku malah ingin ke sini minggu depan. Tapi, aku tak mau berjanji lagi. Aku khawatir mengecewakan Mimin lagi. Aku lebih memilih diam saja.

Tak terasa kami harus pulang. Huff, apakah harus secepat ini… Kami baru 2 jam bertemu. Mimin, kamu ga apa-apa kalau langsung aku tinggal? tanyaku dalam hati sambil melihat wajah Mimin yang gelap manis… Mimin tampak tersenyum melihatku. Tapi aku tahu, mata Mimin menunjukkan kesedihan.

“Siapin sapu tangan, Min… ,” sindir seorang wanita separuh baya di sana sambil tersenyum.

“Mimin suka nangis soalnya… ,” sahut ibu warung yang lain lebih terus terang sambil tertawa. Keluargaku dan wanita separuh baya tadi juga ikut-ikutan tertawa mendengarnya. Mimin hanya mengeluh manja. Sementara aku hanya diam memandangi Mimin.

Aku dan keluargaku minta pamit kepada orang-orang di sana, termasuk Mimin. Tampak Mimin berusaha tersenyum, namun bibirnya menunjukkan kalau dia ingin menangis. Aku harus apa? Hanya bisa melesat pergi bersama keluargaku. Akhirnya, kami berpisah kembali.

Di dalam mobil, tiba-tiba ada perasaan tidak enak menyelimuti batinku. Tak terasa, mataku basah. Perlahan tapi pasti, setetes air mata mengalir dari mata kiriku. Aku berusaha untuk tidak bersuara. Diam seribu bahasa. Ucapan mamaku juga tidak kusahut. Apa boleh buat. Aku ga mau ketahuan suaraku serak dan basah karena sudah menangis.

Pertemuan Ke-5

Bekasi-Cikarang, 27 Desember 2008

“Kok cepat?” tanya Mimin tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dariku. Aku hanya tertawa kecil.

Hampir dua minggu setelah pertemuan keempat kami, kami bertemu kembali sekitar jam empat. Kami ngobrol-ngobrol kembali. Kali ini lebih lama, sekitar 2,5-3 jam. Namun, kondisi yang sekarang tidak terlalu kondusif untuk pembicaraan santai. Keluargaku sedang ada masalah. Dan Mimin juga terlibat. Hanya saja lebih sebagai seorang narasumber. Masalah ini ternyata sudah cukup lama. Aku baru tahu karena memang jarang di rumah dan Mamaku tidak sempat menceritakannya karena aku cuma di Bekasi selama 2 hari dan 2 malam di awal bulan ini. Kami sekeluarga – bersama Mimin – berbincang-bincang tentang hal itu.

Aku juga tak bisa memberikan senyum terbaikku untuk Mimin karena memikirkan masalah ini. Namun, aku yakin, Mimin pasti memahami kondisi ini. Minimal, setelah ini, aku harus tahu kondisi Mimin yang sebenarnya, langsung dari mulutnya. Benarkah Mimin sedang memiliki masalah juga di Cikarang ini?

Dan ternyata benar. Setelah selesai membicarakan permasalahan sebelumnya, aku meminta bicara secara pribadi dengan Mimin. Menurut Mimin, masalah ini muncul karena faktor iri dan tak suka dengan sikap Mimin yang ceplas-ceplos kalau bicara. Maklum, Mimin kan masih keturunan Surabaya. Kalau bicara, suka ga liat-liat kondisi.

“Lalu sikapmu bagaimana, Min?” tanyaku.

“Ga apa apa. Aku yakin, walaupun ada banyak orang yang membenciku, tapi sebenarnya lebih banyak lagi orang yang mencintaiku,” ujarnya tersenyum dengan senyuman khasnya, senyuman yang polos dan manja.

Aku tersenyum dan senang karena Mimin ternyata beranggapan begitu. Yah, walaupun aku tahu Mimin suka menyembunyikan perasaannya, tapi setidaknya, dia masih berusaha untuk tegar saat ini. Aku merasa lebih tenang.

Setelah kami ngobrol berdua sampai cukup puas, kami berjalan ke arah mobil yang kini sedang dinaiki oleh keluarga kami: mama, papa, dan kedua adikku. Hari sudah mendekati isya’. Kami minta pamit dengan Mimin. Cahaya lampu jalan di seberang kami menimpa tubuh Mimin dengan redup dan sayu. Seolah begitu menggambarkan perasaanku saat itu. Mungkin, aku tak bisa bertemu lagi denganmu, min, setidaknya selama seperempat tahun. Aku ingin mengatakannya, namun tak tega. Lidahku kaku, bibirku membisu. Sudahlah, aku tak perlu mengatakannya hanya karena ingin Mimin tidak terlalu berharap.

Tak lama, mata Mimin tampak berkaca-kaca di bawah cahaya redup itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mimin mencium tangan Mamaku. Lalu Mama membalas dengan mencium pipi dan kening Mimin. Lalu, tiba-tiba Mimin menarik tanganku dan menciumnya.

“Eh, tumben nyium tangan. Biasanya ga pernah,” ujarku. Mimin hanya tersenyum. Kami sekeluarga satu per satu menaiki mobil.

“Sudah, ya, Min. Ati-ati. Assalamualaykum… ,” ucapku dengan berat hati.

Wa’alaykum salam. Ati-ati juga di jalan ya mas,” jawab Mimin.

Mobil yang kami naiki mulai menderu. Papaku mulai memasang gigi pertama dan menginjak pedal gas. Mobil yang kami naiki pun melaju perlahan dan semakin cepat.

Mataku tak lepas memandang Mimin. Mimin hanya diam seperti patung. Entah, dari mana perasaan ini muncul, tiba-tiba aku merasa Mimin menangis lagi…. Sosoknya di kegelapan tidak tampak jelas dari dalam mobil. Kemudian, sosok itu semakin lama semakin kecil, kecil, dan kecil. Dan akhirnya, hilang dari pandangan….

Aku tak meneteskan air mata. Sekarang, aku sudah bisa mengendalikan diriku. Tapi aku tak bisa berhenti memikirkan Mimin, dan berpikir keras untuk mencari cara membahagiakan Mimin dari jarak jauh…

Aku sayang kamu, Min…

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.