Beranda > Dokumentasi Kehidupan > 3 Pucuk Surat dari Bekasi

3 Pucuk Surat dari Bekasi

Surat dari Aminah Ma'rifatillah
Surat dari Aminah Ma’rifatillah

Bekasi, 30 Desember 2008

Saat itu aku sedang berada di lantai dua rumahku. Aku memandangi tempat tidur yang digunakan Mimin ketika menginap di sini. Lalu, mataku beralih ke meja kayu berbentuk bulat di sebelah tempat tidur itu. Biasanya kacamata Mimin yang berbentuk bulat persegi selalu ditaruh di atas meja ini jika Mimin sedang tidur di sini. Namun, sekarang ini, tak ada siapa-siapa… Sepi, hanya cahaya dari jendela kamar ini yang menyapaku…

Aku ingat, bagaimana aku pertama kali bisa akrab dengan Mimin. Sebelumnya, kami tak bicara sepatah katapun. Hanya menyapa dan tersenyum kecil. Aku merasa canggung karena baru pertama kali ini serumah dengan seorang gadis sebaya yang baru kali ini kulihat wajahnya.

Esoknya, kudapati Mimin sedang berdiri di dekat jendela kamar yang tinggi dan bersikap aneh. Mimin tampak seperti ngobrol dengan seseorang di luar jendela. Siapa? Tak ada siapa-siapa. Mimin hanya menyebut-nyebut tentang kucing. Tapi kucing pun tak ada di sana.

Aku memberanikan diri untuk bertanya. Mimin hanya tersenyum. Gayanya agak manja dan senang.

“Gaaa, ga ada apa-apa,” jawabnya menyeringai. Entah memang dia sungguh-sungguh sedang bicara sendiri atau cuma menarik perhatianku. Aku tidak tahu.

“Eh, apa sih? Kasih tahu dong… ,” desakku lagi sambil memandangi keluar jendela. Memang tak ada siapa-siapa. Aku memandanginya terus dengan lekat.

Mimin hanya tersenyum malu dan meletakkan tangannya setengah kasar ke wajahku. Aku jadi penasaran. Anak ini kekanak-kanakan atau emang setengah gila, pikirku dalam hati.

Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Jika aku tak penasaran dengannya saat itu, tak peduli dengannya, mungkin aku tak pernah tahu rasa kesepian di dalam hatinya yang malah akhirnya membuat persaudaraan kami semakin erat.

Tiba-tiba aku ingat. Hampir dua bulan yang lalu, saat Mimin masih di sini, Mimin pernah bilang menaruh surat untuknya di atas jendela kamar ini. Tapi katanya hilang dan akhirnya diganti dengan tulisan di dalam sebuah file di komputer.

Jika hilang, mungkin diambil orang lalu dibaca. Atau jika tidak begitu, mungkin jatuh ke atas atap rumah di bawahnya. Atap ini cukup luas dan bersekat. Jika ada kertas yang jatuh di sini, pasti akan tersangkut.

Dengan segera aku memanjat jendela rumahku dan, hup, kakiku kini menginjak genteng lantai satu rumahku dan siap-siap menelusuri atap beton datar di bawah-depannya. Pasti ada di sekitar sini, pikirku.

Dan benar saja, aku menemukannya. Surat yang tertanggal 1 Nopember 2008 itu sudah ga karuan bentuknya… Lusuh dan kotor karena hujan dan panas. Surat ini terdiri dari 3 lembar kertas dan di dalamnya terdapat pecahan kerang dan potongan artikel koran atau majalah. Artikel ini berisi tentang gangguan irama jantung.

Eh, emang aku pernah bilang ke Mimin kalau jantungku lagi ga beres ya? :-/ Aku lupa… Atau jangan-jangan ini tentang dirinya sendiri? Dia kan punya sakit paru-paru.

Sebagian isi surat itu kurang lebih seperti ini:

“Aku cuma nepatin janji (ngasih puisi buatanku yang aneh) + ngasih pecahan keong kesayanganku…. (jelek ya ??)

Ehm, kalau ga suka, dibuang juga ga pa pa! Toh, itu cuma kerang biasa bagi kamu (mungkin).”

Sodaraku ini suka bercanda ya? Pikirku geli sambil memandangi kerang jelek yang sudah pecah tersebut.

Sayang, sebagian tulisan pada lembar ketiga surat ini benar-benar sudah rusak dan tak bisa dibaca. Puisinya jadi terpotong.

Eh, ternyata di balik lembar pertama masih ada tulisan lain.

“Walaupun biasa, tapi bagi aku kerang ini istimewa. Karena kerang ini …. aku jadi selalu inget laut dan ngerasa ada di laut…. Akan merasa tenang jika aku menggenggamnya.”

Jangan-jangan ini kerang dari kekasih hatinya yang telah lama meninggal…

Hmmmh, jika kamu memang merasa tenang dengan menggenggamnya, aku juga pasti akan merasa begitu. Pikirku. Aku hanya tersenyum dengan sikapnya itu.

Lalu, aku segera memanjat genteng tersebut, melewati jendela, dan menghampiri komputerku di lantai dua. Aku mencari surat kedua Mimin di sana. Ketemu! Nama file-nya “for you”. Tanpa ekstensi. Tapi sebenarnya ini file Word yang dihilangkan ekstensinya.

Aku membacanya. Kemudian diam terpana. Rasanya bahagia jika bisa membahagiakan orang lain. =) Ini sepenggal surat kedua Mimin di komputerku:

Aku sayang kamu………

Jangan benci dan lupain aku……..

Berada disampingmu adalah taman hatiku……….

Kamu adalah kebahagiaan dan kasih sayang yang slalu aku impikan……

Aku ga mencantumkan semuanya, karena surat itu kan buat aku seorang…. Kata-katanya khusus buatku. Hehe.

Lalu aku membalas surat itu, yang sebagian isinya kurang lebih begini:

Aku ingin kamu tahu, betapa aku menyayangi dirimu. Betapa aku ingin berbagi denganmu.

Betapa aku ingin memahami perasaanmu.

Min, saudaraku, sayangku, cintaku. Tetap tabah ya, menjalani kehidupan. Tetap semangat, tetap tersenyum, tetap bahagia… Lihatlah bintang di balik gelapnya awan. Lihatlah mentari di balik gerimis hujan…

Sesungguhnya di balik gelapnya awan senantiasa ada bintang yang selalu bersinar.

Sesungguhnya di balik gerimis hujan, mentari masih menunggu untuk tersenyum dan menyapa alam.

Selebihnya aku lupa, terutama yang ga ada iramanya….

  1. Kamis, Januari 8, 2009 pukul 3:06 am | #1

    wuaduh..
    kisah nyata ternyata…
    kirain fiksi, hehe

  1. Belum ada trackback.