Aminah Ma’rifatillah, Sayangku, Cintaku…
Berikut ini adalah sepenggal kisahku dengan Mimin. Sebenarnya, aku ingin menceritakan yang lebih lengkap dan detail. Hanya saja, karena senin masih ada ujian RPLL, dan lagi, masih ada beberapa postingan yang harus kuselesaikan, aku cuma akan cerita sedikit kisah tentang kami. Untuk awalnya, aku ingin cerita beberapa paragraf sebagai pembukaan.
Prolog
Subhanallah, sama sekali ga nyangka, gue punya sodara sepersusuan. =) Batinku sampai saat ini…
Dalam Islam, hubungan mahram (tidak boleh menikah) selain bisa terjadi karena keturunan, juga bisa terjadi karena penyusuan. Seorang anak yang menyusu kepada seorang wanita selain ibu kandungnya, dengan memenuhi beberapa syarat tertentu yang meliputi usia si anak harus sebelum 2 tahun dengan jumlah susuan yang mencukupi, maka ibu tersebut menjadi mahram bagi si anak… Si anak juga menjadi mahram dengan anak-anak dari ibu tersebut. Hukum-hukumnya bisa dibaca di sini yang saya ambil dari majalah Asy Syari’ah. Tapi sepertinya, di file ini, aku sudah edit sedikit untuk kemudahan pemahaman diri sendiri saat itu, minimal sebagai komentar di dokumen tersebut.
Dan, sesuai dugaan sebelumnya, ternyata kami memenuhi semua syaratnya!
Jadilah aku punya sodara “baru”… Yakni seorang ibu, seorang bapak, dan 7 orang anaknya, termasuk di antaranya adalah seorang gadis manis berkacamata yang sebaya denganku yang lahir pada tanggal 14 Juli 1989 (Sebenarnya tipe gadis kesukaanku itu yang pake kacamata
. Tampak pintar soalnya). Aminah Ma’rifatillah, begitulah namanya. Biasanya, di Kediri, beliau dipanggil dengan nama Mimin. Sampai-sampai beliau pernah bilang akan marah denganku kalau dipanggil dengan nama lain. Loh, bukannya nama Aminah lebih keren, ya, daripada nama Mimin, batinku. Tapi sudahlah, mau anaknya gitu. Aku tersenyum saja.
Aiiih, senangnya … Aku punya 9 cinta baru… 9 sayang baru. Seorang ibu, seorang bapak, dan 7 orang anaknya. Hmmm, kapan ya bisa ketemu sama mereka semua? Selama ini aku baru bertemu dengan Mimin seorang. Saudara-saudaraku yang lain sudah tak pernah bertemu lagi selama belasan tahun…
Waktu kami pertama kali bertemu di Bekasi, kami langsung akrab, entah kenapa. Padahal Mimin tidak pernah ingat siapa aku karena Mimin kehilangan memorinya ketika usia 7 tahun. Sementara aku sendiri hanya ingat pernah punya teman yang namanya Mimin. Itu saja. Selebihnya cuma tentang keluarganya saja. Yah, waktu itu memang kayaknya aku lebih akrab sama mas Aziz dan mas Dedi. Maklumlah, sama-sama cowok.
Setelah itu, kami sering kemana-mana berdua. Ke mol berdua, naik motor berdua, jalan-jalan berdua, lari pagi berdua, sarapan berdua, sampai suka cerita-cerita berdua di lantai atas rumahku. Kadang-kadang kalau mau pergi, kami ajak adik terkecilku, Faiz. Faiz juga kayaknya suka sama saudara baru kakaknya ini.
Tapi, itu semua cuma berlangsung selama 4 hari. Kami harus berpisah karena aku harus kembali kuliah ke Bandung.
Selama perpisahan kami, kami sering sms dan telepon. Isinya juga lebih sering ga jelasnya dan sering balas-balasan puisi dan pantun. Kadang puisi tentang cinta, tentang saudara, tentang kegundahan hati, dan yang paling berkesan buatku adalah tentang pantai. Ternyata kami berdua sama-sama suka pantai. Bagi kami, ga ada tempat yang paling romantis dan menyenangkan di dunia ini selain pantai.
Bagiku, Mimin adalah sebuah anugerah dari Allah. Dia cerdas dan hampir memahami semua sikapku hanya dalam waktu 4 hari pertemuan pertama kami tersebut. Hebat kan? Aku juga mudah memahami karakternya karena karakternya mirip banget dengan 2 teman dekatku di SMA. Kami jadi klop banget… =)
Terkadang Mimin suka nulis surat buatku dan disimpan di rumah kami di Bekasi. Aku bisa mengambilnya ketika pulang ke Bekasi walaupun Mimin saat itu masih di Cikarang.
Namun, sayang, Mimin sekarang tidak bawa HP. Padahal Mimin sekarang ngaji di pondok pesantren di Cikarang. Katanya mau jadi guru ngaji. Wah, subhanallah, ga kayak awak nih…
HP-nya ditinggal di Kediri ketika pulang kesana. Kami jadi tidak bisa berkomunikasi apa-apa selain numpang telepon orang. Sering merasa ga enak kalau terlalu sering nelpon. Huff… Rindu berat rasanya…


Komentar Terakhir