Lagi, Definisi Kehidupan, Hakikat Kebenaran (bag 1)
Selama menjalani masa istirahat karena sakit demam berdarah, aku banyak merenung. Banyak sekali yang kurenungkan. Salah satunya tentang definisi kehidupan. Lagi-lagi aku memikirkannya. Mungkin pertanyaan seperti ini memang tak akan pernah habis dijawab.
Aku punya kebiasaan mendefinisikan kehidupan secara singkat. Tapi, sayangnya, masih parsial. Dulu bagiku hal itu tidak masalah. Maklum. Apa saja yang bisa dipikirkan anak SMP-SMA? Mungkin sudut pandangku waktu itu masih satu. Saat itu bagiku, yang penting diriku sendiri puas dengan jawaban versiku sendiri. Selain itu, definisi yang singkat membuatku mudah untuk mengingatnya untuk dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan.
Asal Nama “fahmy319″
Sempat ada beberapa orang teman yang menanyakan padaku, apa alamat blogku, lalu bertanya-tanya, kenapa ada “319″-nya?
Well, sebenarnya blog ini sudah kubuat sejak zaman aku masih TPB (tingkat satu perkuliahan di ITB). Nah, saat itu dah ada blog dengan alamat fahmy.wordpress.com… >_< Karena aku ga mau panjang-panjang membuat alamat – misalnya jadi wahyufahmy.wordpress.com – aku memilih fahmy319 sebagai ID. Angka 319 itu tiga digit terakhir dari NIM-ku saat itu, 16506319 (sekarang jadi 13506113).. Hehe, cuma itu artinya. Maklumlah… Waktu itu masih cupu dan kelewat polos (sekarang mah udah ngaco
). Masih ga ngebayangin kalo bakalan ganti NIM pas penjurusan atau ngasih nama samaran apa gitu yang kerenan…
Hmmm, ada teman yang sering bingung dan lupa melulu dengan alamat blogku… Duuu, gimana yach?
Nah, ini dia tips menghafalnya:
3 Pucuk Surat dari Bekasi
Bekasi, 30 Desember 2008
Saat itu aku sedang berada di lantai dua rumahku. Aku memandangi tempat tidur yang digunakan Mimin ketika menginap di sini. Lalu, mataku beralih ke meja kayu berbentuk bulat di sebelah tempat tidur itu. Biasanya kacamata Mimin yang berbentuk bulat persegi selalu ditaruh di atas meja ini jika Mimin sedang tidur di sini. Namun, sekarang ini, tak ada siapa-siapa… Sepi, hanya cahaya dari jendela kamar ini yang menyapaku…
Aku ingat, bagaimana aku pertama kali bisa akrab dengan Mimin. Sebelumnya, kami tak bicara sepatah katapun. Hanya menyapa dan tersenyum kecil. Aku merasa canggung karena baru pertama kali ini serumah dengan seorang gadis sebaya yang baru kali ini kulihat wajahnya.
Aminah, Pertemuan Ke-Empat dan Lima
Pertemuan ke-4
Bekasi-Cikarang, 14 Desember 2008
Akhirnya, setelah beberapa bulan lamanya, aku pulang ke Bekasi. Sengaja kusempatkan waktu untuk mengunjungi Mimin di Cikarang. Keluargaku pun mengizinkan dan malah beramai-ramai mengantarku ke Cikarang naik mobil proyek papa.
Di dalam mobil, hatiku berdetak lebih kencang daripada biasanya. Ah, akhirnya, aku bertemu Mimin. Bagaimana keadaannya ya? Apa yang sedang dikerjakannya sekarang? Apakah dia juga merindukanku… Dan lagi, melalui telepon, sebenarnya aku sudah berjanji untuk mengunjunginya sabtu kemarin, tanggal 13 Desember. Namun, aku kemalaman sampai Bekasi. Waktu itu aku lupa kalau ada demo program Sistem Informasi jam 11.30 kalau tidak salah…. Mana aku belum siap apa-apa buat pulang… Alhasil, aku baru berangkat sore hari jam 3-an… Dan sampai bekasi pada malam hari. Maafkan aku Min.
16 Random Things About Me
Jujur saja, aku senang merenungi diri sendiri, memahami kepribadian diri sendiri secara jujur… Rasanya nyaman jika memahami diri sendiri dengan baik. Jadi, dengan senang hati aku memilih penge-tag-an yang versi 16 poin dari Aldilla Tienevy. Yang banyak itu… Hehe… Sebenarnya sih, nyusahin orang yang bakalan ku-tag entar…. Tapi, ga pa pa lah… Kapan lagi di-tag sama orang cakep.
The rules are:
- Once you’ve been tagged, you are supposed to write a note with 16 random things, facts, habits, or goals about you.
- At the end, choose 16 people to be tagged.
- You have to tag the person who tagged you.
- If I tagged you, it’s because I want to know more about you.
Palestina yang Sedang Dilanda Duka
Palestina, lagi-lagi tanah ini menjadi saksi pertumpahan darah di antara umat manusia.
Lagi-lagi, ratusan nyawa tak berdosa menjadi korban.
Lagi-lagi, gedung-gedung digempur dan darah berceceran hanya karena keegoisan manusia. Rasanya sudah bosan dengan peperangan ini. Rasanya ingin sekali mengutuk zionisme, suatu paham yang menjadi pemicu ketidak adilan ini. Jujur saja, tidak ada pemahaman yang kubenci di dunia ini sebagaimana kebencianku terhadap zionisme.
Aku benci perang! Selamanya aku akan membenci peperangan! Sebisa mungkin, aku akan menghindari peperangan dan lebih memilih untuk menempuh jalan damai! Itu adalah nuraniku kala berbicara. Tapi, seandainya aku berada dalam posisi penduduk Palestina, apakah aku tetap tidak mau berperang, apakah aku tak mau menghancurkan tank-tank yang telah membunuh saudara-saudaraku, dan bahkan mungkin juga keluargaku? Rasanya tidak juga.





Komentar Terakhir