Lagi, Definisi Kehidupan, Hakikat Kebenaran (bag 1)

Sabtu, Februari 21, 2009 9 komentar

Kala Matahari Tenggelam

Kehidupan di Kala Senja

Selama menjalani masa istirahat karena sakit demam berdarah, aku banyak merenung. Banyak sekali yang kurenungkan. Salah satunya tentang definisi kehidupan. Lagi-lagi aku memikirkannya. Mungkin pertanyaan seperti ini memang tak akan pernah habis dijawab.

Aku punya kebiasaan mendefinisikan kehidupan secara singkat. Tapi, sayangnya, masih parsial. Dulu bagiku hal itu tidak masalah. Maklum. Apa saja yang bisa dipikirkan anak SMP-SMA? Mungkin sudut pandangku waktu itu masih satu. Saat itu bagiku, yang penting diriku sendiri puas dengan jawaban versiku sendiri. Selain itu, definisi yang singkat membuatku mudah untuk mengingatnya untuk dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan.

Read more…

Asal Nama “fahmy319″

Selasa, Januari 6, 2009 4 komentar

Sempat ada beberapa orang teman yang menanyakan padaku, apa alamat blogku, lalu bertanya-tanya, kenapa ada “319″-nya?

Well, sebenarnya blog ini sudah kubuat sejak zaman aku masih TPB (tingkat satu perkuliahan di ITB). Nah, saat itu dah ada blog dengan alamat fahmy.wordpress.com… >_< Karena aku ga mau panjang-panjang membuat alamat – misalnya jadi wahyufahmy.wordpress.com – aku memilih fahmy319 sebagai ID. Angka 319 itu tiga digit terakhir dari NIM-ku saat itu, 16506319 (sekarang jadi 13506113).. Hehe, cuma itu artinya. Maklumlah… Waktu itu masih cupu dan kelewat polos (sekarang mah udah ngaco :P ). Masih ga ngebayangin kalo bakalan ganti NIM pas penjurusan atau ngasih nama samaran apa gitu yang kerenan…

Hmmm, ada teman yang sering bingung dan lupa melulu dengan alamat blogku… Duuu, gimana yach?

Nah, ini dia tips menghafalnya:

Read more…

16 Random Things About Me

Minggu, Januari 4, 2009 14 komentar
Menjalani hari dalam sepi
Menjalani hari dalam sepi

Jujur saja, aku senang merenungi diri sendiri, memahami kepribadian diri sendiri secara jujur… Rasanya nyaman jika memahami diri sendiri dengan baik. Jadi, dengan senang hati aku memilih penge-tag-an yang versi 16 poin dari Aldilla Tienevy. Yang banyak itu… Hehe… Sebenarnya sih, nyusahin orang yang bakalan ku-tag entar…. Tapi, ga pa pa lah… Kapan lagi di-tag sama orang cakep. :P

The rules are:

  1. Once you’ve been tagged, you are supposed to write a note with 16 random things, facts, habits, or goals about you.
  2. At the end, choose 16 people to be tagged.
  3. You have to tag the person who tagged you.
  4. If I tagged you, it’s because I want to know more about you.

Read more…

Palestina yang Sedang Dilanda Duka

Minggu, Januari 4, 2009 4 komentar

palestinaPalestina, lagi-lagi tanah ini menjadi saksi pertumpahan darah di antara umat manusia.
Lagi-lagi, ratusan nyawa tak berdosa menjadi korban.
Lagi-lagi, gedung-gedung digempur dan darah berceceran hanya karena keegoisan manusia. Rasanya sudah bosan dengan peperangan ini. Rasanya ingin sekali mengutuk zionisme, suatu paham yang menjadi pemicu ketidak adilan ini. Jujur saja, tidak ada pemahaman yang kubenci di dunia ini sebagaimana kebencianku terhadap zionisme.

Aku benci perang! Selamanya aku akan membenci peperangan! Sebisa mungkin, aku akan menghindari peperangan dan lebih memilih untuk menempuh jalan damai! Itu adalah nuraniku kala berbicara. Tapi, seandainya aku berada dalam posisi penduduk Palestina, apakah aku tetap tidak mau berperang, apakah aku tak mau menghancurkan tank-tank yang telah membunuh saudara-saudaraku, dan bahkan mungkin juga keluargaku? Rasanya tidak juga.

Read more…

Visi Memaknai Realita

Sabtu, Desember 13, 2008 2 komentar
mata_sharingan

Harapan dan Mimpi

Seiring dengan berjalannya waktu, visiku terus berubah. Kalau dipikir-pikir, Wahyu Fahmy yang masih polos, dulu hanya punya satu visi: bahagia dunia dan akhirat. Hehe, standar banget. Lalu visi ini berkembang lebih spesifik, Dulu aku ingin menjadi ilmuwan sekaligus sastrawan. Aku memang dari dulu suka sastra, terutama puisi. Walaupun malas membaca novel yang tebal-tebal, tapi aku setidaknya mampu membedakan, mana novel yang berbobot dan mana yang tidak, dan bagaimana dasar membangun bobot sebuah novel. Menurutku, bobot suatu novel tidak tergantung dari bagaimana novel itu disampaikan, tapi apa yang disampaikan di dalam novel tersebut.

Hal ini merupakan sebuah kesimpulan dari pengalamanku terdahulu bahwa ternyata ada juga novel yang dibawakan secara gaul dan bahasa yang -beneran deh, itu- ga makna banget. Tapi ternyata di pertengahan dan akhir cerita, novel ini menyampaikan pesan yang menurutku keren banget.

Lalu, bagaimana dulu aku ingin menjadi ilmuwan? Hmm, mungkin ini berawal dari sikap tak mau kalahku dengan orang lain, terutama rival-ku dulu di SMA. Yah, dari segi pelajaran, aku menang. Tapi tidak dari segi agama. Yah, mengingat beliau ini ketua rohis di SMA kami.

Mungkin karena ucapan beliau di kelas yang menyatakan, “aku ingin menjadi seorang da’i sekaligus ilmuwan muslim.” Kalimat ini memang -jujur kuakui- sangat mempengaruhiku. Aku merasa, mengapa aku yang (merasa doang, sombong pisan yahh…) “lebih pintar” di kelas dari dia tidak berfikir sampai sejauh itu. Hmm, lambat laun aku sadar. Bahwa ini semua tergantung kedewasaan. Tergantung wawasan kita dan bagaimana kita berkontemplasi dengan kehidupan. Bukan hanya sekedar menumpuk ilmu sebanyak-banyaknya namun tak tahu esensi dari mengapa kita harus memiliki ilmu tersebut?

Dan akhirnya, aku mengambil kesimpulanku sendiri, jalanku sendiri. Aku memang masih bisa menjadi seorang ilmuwan. Tapi itu bukan interest ku. Aku lebih menyukai menjadi seorang engineer, seorang insinyur. Dan tentu saja, hal yang paling penting dari itu semua, dan paling awal dari semua keputusanku, aku ingin menjadi seorang da’i, da’i yang dalam kehidupannya terus berdakwah kepada Allah, dan dalam kematiannya, pengaruh dakwahku masih ada. Bismillahir Rahmanir Rahiim.

Read more…

Menghidupkan Kembali Kepemimpinan Salafush Shalih Untuk Membangun Peradaban Islam (part I)

Senin, November 24, 2008 1 komentar

Pendahuluan

Salafush shalih berasal dari kata as-salaf yang berarti pendahulu, dan ash-shalih yang berarti sholeh atau baik. Dengan demikian salafush shalih berarti para pendahulu yang baik. Para ulama sepakat bahwa salafush shalih adalah ulama-ulama yang shalih yang berasal dari zaman sahabat, tabi’in (generasi setelahnya), dan tabi’ut tabi’in (generasi setelah tabi’in). Salafush shalih adalah sumber rujukan utama bagi umat ini, dan para ulama kontemporer senantiasa tidak akan pernah lepas dari menyandarkan ilmu mereka kepada ilmu yang telah diwariskan oleh salafush shalih. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (Shahih Bukhari)

Read more…

Pendalaman Visi, Salah Satu Upaya Manajemen Waktu

Senin, November 24, 2008 Tinggalkan komentar

Jika sedang berbicara tentang manajemen waktu, mungkin kebanyakan orang akan membahas betapa berharganya waktu dan masa lalu adalah harta yang sudah tidak bisa kita ambil kembali. Namun, di dalam essai ini, saya akan mengambil sudut pandang yang berbeda.

Sebelum membahas sisi praktis dari manajemen waktu, saya ingin menganalisis permasalahan mengapa orang sulit mengelola waktunya. Orang sulit mengelola waktunya karena sulit mengendalikan dirinya sendiri di dalam menempatkan dirinya di antara peran-peran yang dimilikinya atau kegiatan-kegiatan yang sedang dijalaninya. Hal ini sangat berkaitan dengan motivasi yang dimiliki orang tersebut.

Motivasi sangat berkaitan dengan keinginan dan harapan. Keinginan dan harapan adalah benih dari visi. Jika visi ini sudah tumbuh berkecambah, maka motivasi akan berbuah dan menjadi panen raya. Visi tak cukup dengan hanya dipikirkan atau disimpan di dalam ingatan saja. Kebanyakan orang-orang yang sukses adalah orang-orang visioner yang menuliskan visinya di atas kertas. Dengan menuliskannya, manusia akan memiliki suatu pengalaman menulis visinya dan ingatan ini akan lebih tertanam di dalam memori. Lagipula, apa yang dipikirkan manusia kebanyakan hanya menjadi lintasan-lintasan memori yang hanya akan mampir sejenak di memori jangka pendek. Berbeda dengan pemikiran yang telah diejawantahkan ke dalam perbuatan. Pemikiran ini akan lebih tertanam ke dalam jiwa manusia. Dengan menulis, peresapan akan lebih mendalam dan “kunci-kunci penting” jati diri akan lebih banyak yang terbaca.

Read more…

Kategori:Opini
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.